Kejutan Kedamaian

 






Judul: Kejutan Kedamaian 

Nama: Amaya Quendrelina 

Isi:


Detak jantung Vanya seakan memompa lebih cepat, tangannya bergetar, wajah penuh keringat. Ia mondar-mandir gelisah sambil mencuri-curi pandang ke arah pintu. "Aduh ... aku harus memulainya dengan cara apa, ya?" Cakra, sang ayah yang hendak keluar mengerutkan dahi.


"Kenapa kamu mondar-mandir, Van? Seperti habis nyuri saja." Tiba-tiba ibu Vanya ikut menghampiri mereka. "Ada apa ini?"


Vanya tersentak, ia gugup saat orang tuanya menatapnya dengan wajah penasaran.


"Bu, Yah. Sebenarnya Vanya memiliki kekasih dan sekarang dia ada di luar." Cakra dan Ratna saling bertatapan dengan raut wajah kaget. 


"Kok gak disuruh masuk, Nak? Kasihan tahu cuaca lagi panas sekali," tanya Ratna. Ia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Vanya gugup setengah mati, ini bukan pertemuan biasa karena pacarnya adalah anak dari saingan bisnis ayahnya. 


Ratna kembali masuk diikuti laki-laki tua berjas hitam dan remaja dengan kemeja putihnya. Cakra terdiam. "Mau apa kamu ke sini, Rion?" tanya Cakra dengan tatapan sengit.


"Long time no see, Pak Cakra." Rion ingin berjabat tangan, tetapi Cakra menepis tangannya.


"Saya tidak mau menyentuh orang kotor seperti kamu, mau apa kamu ke sini, hah?" teriak Cakra tidak suka. Ekor matanya tidak sengaja melihat remaja disamping Rion.


"Jadi, ini anakmu?" Cakra menunjuk Alva, pacar Vanya. Ia menatap Alva dengan tatapan sulit diartikan.


"Iya, dia adalah pacar Vanya, Yah." celetuk Vanya dengan suara terbata-bata. Cakra tersentak, wajahnya mengeras dengan tangan yang mengepal kuat.


"Apa? Kamu bilang anak ini pacarmu? Kamu gila, Van? Anak ini yang membuat bisnis keluarga kita bangkrut setahun yang lalu. Putuskan dia, Ayah tidak mau punya menantu penipu." Vanya menatap seduh ke arah pacarnya.


"Tidak bisa. Aku mencintainya, Yah. Tolong restui hubungan kami." Vanya bersimpuh ke ayahnya. Ratna kaget dengan perbuatan anaknya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ngapain kamu? Berdiri!" titah Cakra memaksa anaknya untuk berdiri.


"Sampai kapan pun Ayah tidak akan merestui jika pasanganmu dia! Dia yang bikin kamu dihina hanya karena keluarga kita bangkrut, Van. Bahkan dokumen itu masih Ayah simpan. Semua dokumen atas nama Alva, pacar kamu. Pacar kamu ini peni—"


"Itu bukan Alva!" potong Rion cepat. Cakra kembali emosi. "Maaf Om, sebelum Om marah. Izinkan Alva jelaskan terlebih dahulu." Cakra mengangkat tangan tanda ia tak mau mendengar apa pun lagi.


Ia menunjuk pintu. "Keluar! Keluar kalian dari rumah saya." Vanya menggelengkan kepala, ia kembali bersimpuh di kaki ayahnya berharap jika hubungannya direstui. "Ayah ... aku mencintai Alva, Yah. Tolong restui hubungan kami." Cakra tidak mengindahkan ucapan Vanya. 


"Sudah, Van. Berdiri. Kamu tidak perlu seperti itu, sepertinya kita memang belum berjodoh, hubungan kita sampai—"


"Tunggu Nak. Jangan gegabah seperti itu. Ayah sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Oleh karena itu, Ayah berada di sini untuk membantu kamu dan calon menantu Ayah. Tunggu di sini, Ayah ingin mengambil sesuatu di mobil." Suasana hening saat Rion pergi sedangkan muka Cakra masih dibaluti emosi. Beberapa saat kemudian, Rion kembali dengan membawa beberapa dokumen dan berkas.


Rion menatap Cakra dengan serius. "Jadi begini Pak Cakra, saya sebagai Ayah dari Alva tentu tidak terima dengan segala tuduhan Bapak. Maka dari itu, saya datang ke sini bukan hanya untuk melamar putri Bapak untuk Alva, tetapi juga ingin meminta maaf dan membersihkan nama anak saya." Suasana tampak serius, Ratna pun menyuruh Rion dan Alva duduk terlebih dahulu.


Rion menaruh dokumen di meja, ia memperlihatkan beberapa berkas dan foto. "Ini bukti yang sudah saya kumpulkan, dokumen yang berada di tangan Pak Cakra adalah dokumen palsu yang mengatasnamakan anak saya. Pelaku sebenarnya yang membuat Pak Cakra rugi hingga ratusan juta bukan anak saya melainkan karyawan kepercayaan saya." Cakra menatap berkas itu lamat-lamat, tertera nama pelaku dengan materai asli di dokumen itu. Ia baru sadar bahwa dokumen yang ada pada dirinya berbeda dengan dokumen yang diperlihatkan Rion.


Rion paham dengan tatapan Cakra. "Di dalam dokumen Bapak pasti materainya warnanya sedikit pudar dan tanda tangannya dibawah materai bukan di atas materai. Itu sudah menandakan bahwa dokumen yang ada di tangan Pak Cakra merupakan dokumen palsu." Seketika Cakra terperanjat. Rada bersalah tiba-tiba hinggap di hatinya. Ratna yang paham dengan suaminya pun mendekat.


"Mending Mas minta maaf saja dan restui hubungan Vanya dengan pacarnya. Mereka tidak salah, Yah," bisik Ratna. Cakra menatap Rion dan Alva dengan tatapan rasa bersalah karena tadi sempat kasar dan mengusir mereka. "Saya minta maaf, saya tidak tahu jika dokumen yang saya pegang adalah dokumen palsu. Ini kesalahan dan keteledoran saya, maafkan saya." Cakra menunduk malu.


"Tidak apa-apa Om, Alva paham. Jika berada di posisi Om, Alva juga akan melakukan hal yang sama." Suasana di ruang tamu itu pun menghangat. "Jadi, Alva dan Vanya direstui, nih? Iya, dong? Kan, masalahnya sudah kelar?" lanjut Alva dengan senyuman bahagia. Mereka pun tertawa seketika, Cakra mengangguk setuju.


"Kita memang saingan di ranah bisnis Pak Cakra, tetapi saat ini kita bersatu menjadi keluarga." Rion tersenyum tipis. 


"Tidak, kita lakukan saja kerja sama. Saya tidak mau bersaing dengan besan sendiri nantinya." Mereka serempak berseru kepada Cakra. Suasana yang bermula dengan ketegangan berakhir dengan kehangatan penuh senyuman bahagia.


"Tanpa sepengatahuan Om Cakra dan Ayah, aku dan Vanya sudah bertunangan tanpa sepengetahuan kalian di Jogja waktu itu dengan ditemani Tante Ratna," ucap Alva mengejutkan Cakra sambil memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Loh? Kamu sudah tahu?" Cakra menatap istrinya. "Iya, kami berencana untuk memberikan kejutan kepada kamu. Oleh karena itu, kita memberitahu Pak Rion untuk ikut andil dalam rencana ini dan membawa bukti-bukti bahwa Alva tidak bersalah. Aku baru tahu saat mereka bertunangan, Alva menunjukkan dokumen ini kepadaku saat itu." Ratna tersenyum mengejek. Mereka semua tertawa kecuali Cakra yang menekuk wajah karena hanya dirinya yang baru mengetahui hubungan mereka.


Titimangsa: 2 Oktober 2025

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea