Puisi Kemerdekaan Indonesia ke 80





APAKAH KITA SUDAH MERDEKA?

Fransiska Wahyu 


Katanya Indonesia merdeka 

Katanya kita berhasil melawan penjajah 

Katanya Negara kita sudah merdeka 

Apakah itu nyata?


Para pahlawan kita berjuang 

Melawan koloni asing 

Mengusir mereka dari Negeri ini

Membebaskan dan mempertahankan Negeri ini 


Nyatanya, Nyatanya penjahat sesungguhnya ada disini

Mereka yang katanya bekerja untuk rakyat dan negara 

Tapi rakus, buta dan haus kuasa

Apakah ini yang para pejuang inginkan?


Banyak rakyat menderita dan sengsara 

Hanya karena mereka yang gelap mata

Apakah ini kemerdekaan?

Merdeka? Untuk siapa?



Merdeka Hanya Di Atas Kertas

By Nita Suroya


Merdeka hanya dalam kata, tapi terjajah dalam jiwa

Kemerdekaan hanya di atas kertas saja

Tapi realitasnya, kita masih terbelenggu

Oleh sistem yang menindas, kita tak berdaya


Kita bebas berbicara, tapi dibungkam oleh kuasa

Kita bebas memilih, tapi diarahkan oleh kepentingan

Kita bebas hidup, tapi terkurung dalam kungkungan

Oleh norma yang membatasi, kita tak bebas


Merdeka dari penjajahan, tapi terjajah oleh diri

Oleh keinginan dan nafsu yang tak terkendali

Kita terjajah oleh ketakutan dan keraguan

Oleh kebodohan dan kemalasan yang menghantui


Tapi yakinlah, masih ada harapan, masih ada cahaya

Masih ada jiwa-jiwa yang berani melawan

Masih ada suara-suara yang berani berbicara

Masih ada kekuatan yang dapat mengubah keadaan.


Titi mangsa, ponorogo, 3 Agustus 2025


Ilusi Kebebasan

‎Nama penulis: Faqihah

Aku berdiri di jalan yang luas. 

Tapi kaki ini masih terikat. 

Kemerdekaan yang kuproklamasikan. 

Hanya omong kosong tanpa makna. 


Aku bebas menentukan pilihan. 

Tapi hati ini masih terjajah. 

Oleh keinginan dan nafsu yang tak pernah puas. 

Membuatku kehilangan arah dan tujuan. 


Aku memiliki kebebasan untuk berbicara. 

Tapi kata-kataku masih terbatasi. 

Oleh rasa takut dan keraguan. 

Yang membuatku ragu untuk bersuara. 


Aku merdeka, tapi masih terpenjara. 

Dalam belenggu-belenggu yang kupasang sendiri. 

Kemerdekaan yang kuproklamasikan. 

Hanya ilusi yang membuatku merasa bebas.

‎Titimangsa: Jawa Barat, 03 Agustus 2025


Ibu Pertiwi Yang Perlahan Mati

‎Nama penulis: Laila Adri

Di bawah sang mentari merah-putih berkibar,

Langkah kita di hambat di tanah sendiri.

Rakyat  menjerit meminta keadilan,

Kemerdekaan ini masih merangkak dalam kubangan.


Jantung dunia perlahan digusur, 

Di ganti gedung tinggi yang berkuasa.

Meski tanah ini milik bangsa,

Namun, rakyat tumbuh dengan derita.


Kita bebas memilih di balik kotak suara,

Namun, terjajah dalam layar kepalsuan.

Janji-janji hanya menggaung dalam mimpi, 

Rakyat di paksa untuk melangkah di atas kaca.


Wahai Ibu Pertiwi yang kami cintai,

Kami tak ingin hanya sebuah ucapan yang tinggi.

Kami ingin kemerdekaan yang sejati,

Tanpa dijajah harta, suara, dan identitas kami.


‎Titimangsa: Bekasi, 3 Agustus 2025


Bayang kemerdekaan 

‎Nama penulis: Eka Santi 


Katanya merdeka sejak lama,

Tapi nyatanya hidup masih tersiksa.

Baju bebas, pikiran terjajah,

Oleh nafsu, oleh kuasa, oleh celah.


Jalan lengang di pagi hari,

Tapi hati tak bebas menari.

Harga melambung, hak dikebiri,

Di negeri sendiri serasa minoriti.


Merdeka di atas kertas janji,

Namun kenyataan sering bersembunyi.

Keadilan jadi barang langka,

Disuap tawa, ditelan luka.


Kami berdiri di tanah leluhur,

Tapi kerap dibungkam bisu dan gusur.

Jika ini merdeka, mana rasa bebasnya?

Jika ini tanah air, mengapa tak seutuhnya?

‎Titimangsa: Pasuruan, 3 Agustus 2025



Merdeka atau Mati

‎Nama penulis: ‎Indra Subiantoro


‎Merdeka atau mati

Suara pekik itu 

Membuat jantungku membara

Seakan - akan kakiku ingin lari


Aku heran

Seluruh tubuh ini

Kemarin mati total

Setelah mendengar kata itu


Menjadi hidup

Dan bergerak terus

Untuk berjuang

Sampai titik terahkir


Tak peduli

Jiwa ragaku

Mati selamanya

Demi bangsa

‎‎

‎Titimangsa: Probolinggo, 3 Agustus 2025.



Kecerdikan melambai Globalisasi 


17 Agustus tahun 45,

Dimana lahirlah jiwa raga,

Yang baru dan bermahkota,

Seakan kita bisa berkuasa


Itulah hari kemerdekaan kita

Mulai berbenah bangsa dan negara

Merintis harapan dan cita cita,

Mencetak anak bangsa yang bahagia.


Terlihat mulia dan mudah digapai,

Dengan birokrasi dan politik yang melambai lambai,

Didasari  kecerdikan elit yang semampai ,

Pencapaian ternyata masih sangat landai


Yang ada kita hanya terbuai belaka

Oleh janji manis mereka yang mengatasnamakan wakil kita

Nasib dan harga diri  masih tergadai  semata

Masih terjajah oleh globalisasi curang yang melanda.


By : Una

Titimangsa : 04 Agustus 2025.  ,00.00



Kukira Ini Rumah


Kukira aku bangkit di tanah merdeka,

nyatanya aku berdiri di tanah derita.

Mereka bilang akan memeluk bangsa,

nyatanya mereka hanya menanam luka.


Aku bertahan di rumah sendiri,

nyatanya seperti aku dipaksa pergi.

Mencoba mencari bangsa berjati diri,

nyatanya mereka membuatnya jadi ilusi.


Kukira ini rumah,

ternyata ini tempat sampah.

Bertebaran manusia bermasalah.

Kami, orang kecil tak berdaya dijajah


Fisik kami terbebas dari kuasa kolonial,

tapi mereka memenjara emosional.

Apakah nurani mereka terpental?

Hingga tega membuat kami jadi  tumbal?


By: Vya Kim


Merdeka, Tapi Tidak Merdeka 

Oleh Lovanna_grey 


Abad demi abad sudah berlalu,

Tahun demi tahun juga telah berlalu.

Namun, adakah kemerdekaan yang kita rasakan?

Kemerdekaan yang benar-benar merdeka?

Ataukah, kemerdekaan hanya sebuah janji semata?


Tikus-tikus berdasi itu cukup licik 

Membombardir rakyat kecil hanya untuk kepuasan pribadi

Menari-nari di atas penderitaan kaum pribumi

dengan tumpukan rupiah yang setinggi gunung


Hei, tikus-tikus berdasi!

Merah putih itu cukup suci untuk berkibar di negeri yang gelap

Sebuah simbol perjuangan, yang kini terinjak sunyi


Nyanyian pilu itu terdengar lara

Menambah luka baru yang semakin menganga

Hai, tikus berdasi!

Dengarkanlah hati rakyat yang kau dustai!

Bebaskan penderitaan ini dengan segala tindak tanduk kasarmu!

Kami ingin merdeka seperti janji Seokarno!

Bukan dijajah oleh penguasa sendiri!



Terang Yang Redup

‎Nama penulis: Ayu Anggita


Terang itu terlihat remang

Cerah itu terlihat samar

Pelangi tak kunjung datang

Hanya mendung yang membentang


Seribu tanya tanpa suara

Satu langkah tiada berguna

Tatap mata saling mencela

Menyuarakan udara yang hampa


Kilauan cahaya itu tak lagi sama

Membekas luka dalam kenangan 

Asmara jiwa tak lagi menyala

Redup dan padam tanpa harapan


Masihkah ada bentuk nyala rasa itu?

Musnahkah sudah merdeka dalam cinta?

Kapankah rasa terpenjara ini akan sirna?

Akankah terus selamanya tanpa bicara?


Jember, 04 Agustus 2025



Sangkar Garuda

‎Nama penulis: Grace Gultom 

‎Sayap garuda dulu bebas membentang,

Menembus batas cakrawala.

Kini ia hanya diam dan terpasung,

Oleh jerat bangsa kita.


Mereka berkata kita merdeka!

Tetapi hutan dibakar dan laut dikuras besar,

Rakyat hanya bisa meringis dalam tawa,

Karena kerakusan yang terus merambat liar.


Anak-anak menjajakan mimpi di jalanan,

Dibawah tiang yang kosong maknanya.

Sementara pemimpin bersembunyi dalam perjamuan,

Di balik janji-janji palsunya.


Garuda bukan lagi penjaga langit,

Melainkan patung di tengah ironi.

Negeri ini bernyanyi dengan suara pahit,

Lagu merdeka tidak lagi terdengar berseri. 

‎Titimangsa:

Jambi, 04 Agustus 2025


Tidak baik-baik saja.


Wahai Tuhan yang maha esa..

Yang kuasa,lagi bijaksana..

Tolong dengarlah aliran suara..

Yang berasal dari hamba mu yang lemah..


Tuhan...

Apakah bangsaku telah merdeka?..

Akankah bangsaku terus di jajah?..

Para manusia yang hidup dengan serakah!

Mengambil segala yang bukan miliknya..


Wahai para penerus bangsa!

Yang di banggakan oleh negara..!

Namun membuat riuh di luar sana..

Tidak kah engkau malu pada sang pencipta?


Engkau terbuat dari tanah

Dan kelak akan kembali padanya (Tuhan)

Lantas, mengapa dengan angkuhnya engkau bertindak seolah yang paling berkuasa?..


By:angenan_wadon47

(Nur Lita Wahyu Agustin)



Harapan Kebebasan 

Karya : Ikhfa Aprilia 


Kulihat kain membentang diatas tiang

Dengan jahitan jahitan penuh harapan

Keberanian untuk menang

Kesucian akan tenang


Jiwa yang ragu membelenggu 

Hati terikat rantai yang tak terlihat 

Tak kasat mata tapi terasa berat

Menghambat langkah membungkam suara


Ku dengar kicauan kicauan tak pasti

Dari atas langit yang ku anggap berarti

Tidak kah lebih indah dari mimpi

Yang ku nantikan sepanjang hari


Berjalan hidup dengan penuh harap

Mencari jawaban pertanyaan hati

Ragu tak lagi membelenggu 

Kebebasan sejati yang ku tunggu 


Bandung, 4 Agustus 2025


Sangkar Emas

Karya: Dwi Fitriani 


Keberuntungan memang terlihat padaku

Pernahkah kau tahu bagaimana hidupku?

Berpijak pada istana megah 

Melindungi terik dan hujan dari segala arah 


Ribuan kertas merah menjadi sasaran

Dengan siapa aku berteman? 

Sedang kau bertahan karena tujuan

Masih adakah ketulusan?


Wahai ayah dan bunda

Mengapa kau jaga fisikku sedang jiwaku terkekang

Menatap hampa kemewahan bagai bencana

Mengukir luka menjemput tangis


Tenggelamkan aku pada lautan derita

Tuhan, bebaskan aku dari sangkar emas

Izinkan kakiku melangkah merengkuh dunia

Bergandeng tangan pada mereka yang berhati tulus


Selatpanjang, 04 Agustus 2025


Ironi Merdeka

‎Nama penulis: Jose Alexandre

Tujuh belas Agustus, gema sakral dari masa lalu

Kala merah putih pertama kali mencium angkasa biru

Teriak "merdeka!" menggelegar dari jiwa yang pilu,

Melepas rantai, memeluk asa, menatap masa baru.


Keadilan kini bermain peran

Tajam ke bawah, tumpul ke kalangan yang dominan

Yang benar ditikam fakta, yang salah mendapat pembenaran

Di negeri ini, keadilan kerap mati perlahan


Jika ini adalah merdeka,

Mengapa masih banyak yang tak punya daya?

Mengapa keadilan harus tunduk pada nama dan harta?

Mengapa kebenaran sering kali terbungkam suara?


Merdeka, kini hanya seremonial tahunan

Penuh lagu, bendera, dan pidato penuh harapan

Diluaran sana, luka tetap tak terbantahkan

Ironi merdeka: lantang terucapkan, terjajah terbalut dalam kepahitan

‎Titimangsa: Sidoarjo, 5 Agustus 2025


Vampir Merdeka!

‎Nama penulis: Salmiati

Mata penguasa menatap penuh senyum.

Rakyat-rakyat jelata bertebaran bagai berlian dimatanya.

Bagai cuan-cuan darah yang siap dihisap.

Lewat mereka, rakyat jelata tak tahu apa-apa.


Vampir merdeka!

Simbol menghisap darah rakyat jelata.

Haus menggerogoti hingga menyiksa kewarasan mereka.

Tanpa sisa, lenyap tak bersuara.


Vampir merdeka!

Simbol tontonan menyenangkan bagi penguasa.

Berlomba-lomba menguliti hak-hak sampai ke tulang belulang mereka.

Dihisap, Dirajam, diiris, bagai pelepas dahaga kerakusan penguasa.


Vampir merdeka!

Ajang memperkaya diri bagi penguasa.

Di mana lagi rakyat akan percaya?

Adakah pemilik hati bagai cahaya yang melepaskan belenggu dari vampir merdeka sang penguasa?

‎Titimangsa: Padang, 05 Agustus 2025


Tenggelam dalam lautan 

‎Nama penulis: Gabe Putera 

 Laut yang jernih menjadi merah.

Rakyat kelaparan tiada yang peduli.

Aku jatuh dari keterpurukan.

Bagaikan pedang yang disayat.


Daun berguguran bagaikan tangisan.

Darah mengalir tanpa berhenti.

Titah menghancurkan segalanya .

Tikus tikus mulai berdatangan.


Fondasi Rakyat mulai berganti wajah.

Wajah yang berseri berubah murung.

Bagaikan wajah yang dilumuri darah.

Lambang lambang jatuh.


Aku sama sama menyesal.

Kegelapan mengalir begitu saja.

Jelas jelas dunia damai.

Lalu kenapa kehancuran baru dimulai.

‎Titimangsa: Bali, 5 agustus 2025


PERJUANGAN YANG BERANI

‎Nama penulis: Nurliani Sudrajat

Merdeka yang belum dijajah

Perjuangan kita masih panjang

Masih banyak harus dihadapi

Semangat api menyala berkobar!


Bukankah hindari dari sejarah?

Indonesia sudah sangat tua,

Yaitu delapan puluh tahun,

Sekarang sudah sangat maju


Hargai dan cintailah negeri,

Karena tanah air negeriku,

Takkan ada berpindah tempat,

Hati bersih suci keberanian


Terima kasih para pahlawan,

Sudah hebat dengan kisahmu,

Cerita cerita membuat sedih,

Peduli, tanggung jawab bersama


‎Titimangsa: Tasikmalaya, 5 Agustus 2025 (20.35 WIB)


PARADOKS

‎Nama penulis: Milfa Yunita

‎Isi:

Katanya negara ini

Negara Demokrasi

Tapi, kau tahu sendiri

Kebebasan kita dikebiri


Katanya kita merdeka

Dari Belanda

Tapi nyatanya

Kita ditindas penguasa


Katanya bumi Nusantara

Kaya raya

Tapi nyatanya

Kita masih sengsara


Kenapa hanya katanya?Kapan kita merdeka? 

Dengan makna

Yang sesungguhnya? 

‎Medan, 06 Agustus 2025


Merdeka di Awal Kehancuran

Hilda Baiti


Pada malam yang sunyi 

Kegelapan turut menyelimuti

Angin berbisik cerita lama

Tak sengaja terucap kata merdeka


Gemerlap warna-warni bintang 

Langit hitam membentang

Dedaunan jatuh termakan waktu

Teringat nusantara tengah kacau


Keegoisan para pemimpin

Penderitaan yang orang rasakan

Kegelapan mulai berkuasa

Menghancurkan masa depan bangsa


Tak ada yang bisa dipercaya

Para pemimpin tergila harta

Awal kehancuran dimulai

Namun harapan tak pernah mati


                                 

 Sang saka Merah Putih

Oleh : Lidiana

Berkibarlah benderaku

Berkibarlah sang saka merah putih

Dengan lambang keberanian dan kesucian

Yang mempunyai makna perjuangan

 

Tiada hari tiada henti

Sang pejuang membela negara ini

Mereka rela mengorbankan jiwanya

Untuk mempertahankan negara ini

 

Engkau rela mati di tangan penjajah

Untuk negara ini,

Engkau rela hidup miskin untuk negara ini,

Engkau rela hidup sederhana demi mempertahankan negara ini.

 

Merah putih di dadaku

Marilah bangsa bela negara

Memperjuangkan negara ini

Dengan memperingatinya sebagai pertanda bentuk menghargainya.


SEBUAH DONGENG KEMERDEKAAN

Oleh: Galuh Duti


kemerdekaan itu memusnahkan penjajah

banyak pesan di buku-buku sejarah, pendidikan, serta wajah-wajah orang tua

di kelas merdeka anak-anak mewarna bendera

menghafal lima sila sampai dada mereka


kemerdekaan itu suara koran, radio, televisi

riuh megafon di jalanan kampung: menelusup ke telinga-telinga

jalanan aspal, jembatan, dan kereta listrik

bendera yang berkibar setiap hari nasional


tetapi dalam puluhan dekade

kemerdekaan adalah dongeng masa kanak-kanak

ceritanya banyak dibaca dari kitab perjuangan 

setiap melihat dunia, orang-orang terjerat suaranya sendiri


lalu, kemerdekaan seperti keinginan ambisius

alih-alih pulih ternyata pekik mereka terdengar seperti disapih

sorak sorai merdeka seperti kendaraan macet

semua cuma rencana yang digagalkan oleh sesama


Malang, 10 Agustus 2025

 


Suara Hati Lambang Garuda

By: Ulfa Dwi Faradila


Bintang yang Bersinar...

Menyinari jalan, membawa terang....

Tapi kini semakin redup....

Dipenuhi kemaksiatan, kehilangan cahaya....


Sebuah rantai kokoh, kini berkarat Runtuh.....

karena hilang rasa kemanusiaan....

Ego dan hawa nafsu menutupi hati.....

Menghancurkan keadilan, menghancurkan diri.....


Pohon besar indah, bersedih dan sakit....

Melihat perpecahan bangsa, kehilangan arah....

Hanya karena membanggakan daerah sendiri....

Tak ada musyawarah yang baik, tak ada persatuan....


Keadilan bangsa, tenggelam dalam ketamakan.....

Demi kepentingan pribadi, keadilan hilang...

Ketamakan seorang iblis, menghancurkan bangsa.......

Menyisakan kesedihan, menyisakan duka....



Tegal , 13 Agustus 2025


Perjuangan Merdeka Dalam Jiwa:

By: Kevin Kurniawan

Di jalan yang panjang, kami berjalan bersama

Menuju kemerdekaan, yang masih jauh dari kata

Kami berjuang untuk hak-hak kami, untuk kebebasan

Tapi masih banyak rintangan, yang harus kami hadapi


Ketergantungan ekonomi, membelenggu kami

Keterbatasan akses, membuat kami terjajah

Kami menuntut keadilan, kami menuntut kebebasan

Tapi mereka tidak mau mendengar, mereka tidak mau mengerti


Kami terus berjuang, kami tidak menyerah

Kami yakin bahwa suatu hari, kami akan merdeka

Kami ingin hidup dengan martabat, tanpa belenggu

Kami ingin hidup dengan kebebasan, tanpa penindasan

 


Di Balik Sorak Kemerdekaan

By: Girl Alghifar


Sorak sorai memenuhi udara,

bendera berkibar di antara langit biru.

Namun di dada, luka tak mereda,

terjajah oleh janji yang tak pernah terpenuhi.


Langkah bebas menapak tanah sendiri,

tapi arah dibatasi garis tak kasat mata.

Kata “merdeka” lantang di bibir,

namun hati terkunci dalam ruang gelap.


Di setiap pesta perayaan yang meriah,

ada bisik sunyi yang tak terdengar.

Tentang mimpi yang tak diizinkan tumbuh,

dan suara yang dibungkam tanpa bekas.


Benderaku gagah menatap angin,

tapi jiwa ini masih berperang sendiri.

Di balik sorak kemerdekaan,

ada kebebasan yang tak pernah pulang.



Kemerdekaan yang Tergadai

By: Siti Aisyah Al Humaira

Di tanah yang katanya merdeka
Kita masih merangkai doa dari luka
Bendera berkibar gagah di langit senja
Namun jiwa terkekang oleh kuasa yang buta

Merdeka hanyalah kata yang dikidungkan
Sementara rakyat dicekik kepentingan
Papan, pangan, sandang menjadi pertaruhan
Keadilan bersembunyi di balik kepalsuan

Suara lantang digembok tanpa alasan
Keberanian dibungkam dengan ancaman
Merdeka tapi hati tetap terjajah
Oleh ketidakadilan yang kian menjajah

Oh tanah air, sampai kapan berpura-pura?
Merdeka di lisan, terjajah di jiwa
Kami menanti cahaya yang setia
Menerangi bangsa menuju merdeka yang nyata



PERSONIFIKASI KEMERDEKAAN

--kingrasastra

 

malam menggantung, menyelimuti kata-kata.

mereka yang berteriak kini disumpal hampa.

mulut-mulut terkunci, terisi sisa-sisa

janji palsu, seolah-olah semua baik-baik saja.

 

angin berdesir membawa suara dari jauh,

suara parau yang meminta ruang teduh.

tangan terulur disambut tinju yang rapuh,

sebagai balasan atas janji yang terbunuh.

 

saat lidahku ingin berkata yang benar,

babi-babi datang menertawai di luar.

kepala babi dikirim, jadi bukti yang kasar,

bahwa keberanian hanya dipinjam sebentar.

 

di sini kemerdekaan hanya jadi nama.

ia tak lagi punya mata untuk melihat hama.

mata ditutup, lidah dipotong, tangan dilema,

ia hanya hidup dalam narasi yang sama.

 

Medan, 14 Agustus 2025


Apalah Arti Kata Merdeka

Karya: Uswatun Chasanah


Senja kini telah berganti malam

Sang Surya telah tenggelam dalam peraduan

Namun pedagang sang penguasa jalan

Masih berlalu lalang menjajakan barang 


Kala ku pandang kolong jembatan 

Nampak tubuh renta tengah terlentang 

Selembar kerdus bekas perabotan

Di pakainya untuk sekedar memberi kehangatan 


Perih teriris amat kurasakan

Di depan mata kemiskinan merajalela 

Berat sungguh nasib rakyat jelata

Penuh derita dan air mata


Apalah arti kata merdeka

Jika penghuninya masih sengsara

Sedangkan para petingginya berbahagia

Tanpa memikirkan nasib rakyatnya


Terpatahkan Kenyataan

‎Nama penulis: Allya Almahira


‎Di bawah bendera yang berkibar tinggi

Harapan dan keinginan berkobar

Merdeka kata mereka, tapi jiwa terjajah

Bebas, tapi langkah kita dibatasi oleh bayang-bayang


Dinding-dinding kata yang membungkam suara

Membisu seolah tak pernah salah

Kita merdeka, tapi itu impian yang tak tergapai

Karena rantai tak terlihat mengikat jiwa 


Hay, Negaraku, bangun

Jangan biarkan bumimu terjajah lagi

Jangan biarkan kemerdekaan ini hanya menjadi angan

Secercah harapan seolah tak menjadi kenyataan


Bayang-bayang masa lalu membayangi hati

Merdeka, tapi terjajah dalam diam

Mencoba mencari jalan keluar

Tapi nyatanya kebebasan sejati masih jauh terdiam.


‎Titimangsa: Lampung, 15 Agustus 2025


Wahai Indonesia 

‎Nama penulis: Helda Melani 


Garuda Indonesia berdaulat 

Merdeka yang membawa tekad

Berjuang tanpa pamrih 

Segera pulih untuk tumbuh 


Negri indonesia merdeka 80 

Berjuang yang tak fana 

Jangan sampai terlena dalam duka

Bawa kemerdekaan ini dengan nyata


Wahai Indonesia 

Negri pujaanku

Cahayamu ada di pundakku 

Jangan ragu untuk berusaha 


Mari bumikan karya 

Langitkan mimpi

Merajut asa yang tinggi

Mewujudkan negri yang adil


‎Titimangsa: Bandung, 10 Agustus 2025


Merdeka dalam Deras Air Mata

Karya: M Dzakwan Iftikar Silalahi


Merah maknakan berani

Putih maknakan suci

Benarkah demikian wahai pusaka kami?

Tidakkah kita telah dikelabui?


Lembayung senja merah merona

Bagai merah yang nampak di hidungnya

Selepas tangis yang menitis dari netra

Ia terjajah dalam merdeka

 

Kuhampiri ia dengan retina berderai

Rambutnya tersingkap tak terurai

Tangannya lemas lagi lunglai

Hatinya bak tertiup baday


Kenapa, Bu?

Tanyaku padanya

Belajarlah yang rajin anakku, kelak kau akan tahu

Dengan lirih mulutnya berbicara


Cianjur, 15 Agustus 2025


DEJAVU

Karya : Shinta Wahyuni



Pada suatu petang nan damai

Secangkir teh hijau bersama roti kering menemaniku yang tengah berandai-andai

Hingga rasa bosan kian menghampiri

Membuat jemariku meraih benda pipih; hendak mencari sesuatu yang dapat hiburkan diri


Ibu jari mengusap-usap layar

Terhenti pada suatu rekaman gambar hidup yang terputar

Sepasang netraku tertuju pada seekor katak tengah meloncat-loncat menghindari ular

Menyelamatkan diri—melewati setiap belukar


Tampak sang katak akhirnya terbebas dari si binatang melata

Ia meloncat kegirangan pulang pada perairan

HAP! 

Begitu saja, tubuh sang katak lenyap saat seekor ikan Toman melahap


Bebas? apa dikata?

Memanglah ia selamat dari predator darat

Tetapi di kediamannya pun masih saja terkena jerat

Ah. Pemandangan ini seperti ... peristiwa yang cukup akrab dan terasa begitu dekat


_Tasikmalaya, 15 Agustus 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian