Puisi Kemerdekaan Indonesia ke 80
APAKAH KITA SUDAH MERDEKA?
Fransiska Wahyu
Katanya Indonesia merdeka
Katanya kita berhasil melawan penjajah
Katanya Negara kita sudah merdeka
Apakah itu nyata?
Para pahlawan kita berjuang
Melawan koloni asing
Mengusir mereka dari Negeri ini
Membebaskan dan mempertahankan Negeri ini
Nyatanya, Nyatanya penjahat sesungguhnya ada disini
Mereka yang katanya bekerja untuk rakyat dan negara
Tapi rakus, buta dan haus kuasa
Apakah ini yang para pejuang inginkan?
Banyak rakyat menderita dan sengsara
Hanya karena mereka yang gelap mata
Apakah ini kemerdekaan?
Merdeka? Untuk siapa?
Merdeka Hanya Di Atas Kertas
By Nita Suroya
Merdeka hanya dalam kata, tapi terjajah dalam jiwa
Kemerdekaan hanya di atas kertas saja
Tapi realitasnya, kita masih terbelenggu
Oleh sistem yang menindas, kita tak berdaya
Kita bebas berbicara, tapi dibungkam oleh kuasa
Kita bebas memilih, tapi diarahkan oleh kepentingan
Kita bebas hidup, tapi terkurung dalam kungkungan
Oleh norma yang membatasi, kita tak bebas
Merdeka dari penjajahan, tapi terjajah oleh diri
Oleh keinginan dan nafsu yang tak terkendali
Kita terjajah oleh ketakutan dan keraguan
Oleh kebodohan dan kemalasan yang menghantui
Tapi yakinlah, masih ada harapan, masih ada cahaya
Masih ada jiwa-jiwa yang berani melawan
Masih ada suara-suara yang berani berbicara
Masih ada kekuatan yang dapat mengubah keadaan.
Titi mangsa, ponorogo, 3 Agustus 2025
Ilusi Kebebasan
Nama penulis: Faqihah
Aku berdiri di jalan yang luas.
Tapi kaki ini masih terikat.
Kemerdekaan yang kuproklamasikan.
Hanya omong kosong tanpa makna.
Aku bebas menentukan pilihan.
Tapi hati ini masih terjajah.
Oleh keinginan dan nafsu yang tak pernah puas.
Membuatku kehilangan arah dan tujuan.
Aku memiliki kebebasan untuk berbicara.
Tapi kata-kataku masih terbatasi.
Oleh rasa takut dan keraguan.
Yang membuatku ragu untuk bersuara.
Aku merdeka, tapi masih terpenjara.
Dalam belenggu-belenggu yang kupasang sendiri.
Kemerdekaan yang kuproklamasikan.
Hanya ilusi yang membuatku merasa bebas.
Titimangsa: Jawa Barat, 03 Agustus 2025
Ibu Pertiwi Yang Perlahan Mati
Nama penulis: Laila Adri
Di bawah sang mentari merah-putih berkibar,
Langkah kita di hambat di tanah sendiri.
Rakyat menjerit meminta keadilan,
Kemerdekaan ini masih merangkak dalam kubangan.
Jantung dunia perlahan digusur,
Di ganti gedung tinggi yang berkuasa.
Meski tanah ini milik bangsa,
Namun, rakyat tumbuh dengan derita.
Kita bebas memilih di balik kotak suara,
Namun, terjajah dalam layar kepalsuan.
Janji-janji hanya menggaung dalam mimpi,
Rakyat di paksa untuk melangkah di atas kaca.
Wahai Ibu Pertiwi yang kami cintai,
Kami tak ingin hanya sebuah ucapan yang tinggi.
Kami ingin kemerdekaan yang sejati,
Tanpa dijajah harta, suara, dan identitas kami.
Titimangsa: Bekasi, 3 Agustus 2025
Bayang kemerdekaan
Nama penulis: Eka Santi
Katanya merdeka sejak lama,
Tapi nyatanya hidup masih tersiksa.
Baju bebas, pikiran terjajah,
Oleh nafsu, oleh kuasa, oleh celah.
Jalan lengang di pagi hari,
Tapi hati tak bebas menari.
Harga melambung, hak dikebiri,
Di negeri sendiri serasa minoriti.
Merdeka di atas kertas janji,
Namun kenyataan sering bersembunyi.
Keadilan jadi barang langka,
Disuap tawa, ditelan luka.
Kami berdiri di tanah leluhur,
Tapi kerap dibungkam bisu dan gusur.
Jika ini merdeka, mana rasa bebasnya?
Jika ini tanah air, mengapa tak seutuhnya?
Titimangsa: Pasuruan, 3 Agustus 2025
Merdeka atau Mati
Nama penulis: Indra Subiantoro
Merdeka atau mati
Suara pekik itu
Membuat jantungku membara
Seakan - akan kakiku ingin lari
Aku heran
Seluruh tubuh ini
Kemarin mati total
Setelah mendengar kata itu
Menjadi hidup
Dan bergerak terus
Untuk berjuang
Sampai titik terahkir
Tak peduli
Jiwa ragaku
Mati selamanya
Demi bangsa
Titimangsa: Probolinggo, 3 Agustus 2025.
Kecerdikan melambai Globalisasi
17 Agustus tahun 45,
Dimana lahirlah jiwa raga,
Yang baru dan bermahkota,
Seakan kita bisa berkuasa
Itulah hari kemerdekaan kita
Mulai berbenah bangsa dan negara
Merintis harapan dan cita cita,
Mencetak anak bangsa yang bahagia.
Terlihat mulia dan mudah digapai,
Dengan birokrasi dan politik yang melambai lambai,
Didasari kecerdikan elit yang semampai ,
Pencapaian ternyata masih sangat landai
Yang ada kita hanya terbuai belaka
Oleh janji manis mereka yang mengatasnamakan wakil kita
Nasib dan harga diri masih tergadai semata
Masih terjajah oleh globalisasi curang yang melanda.
By : Una
Titimangsa : 04 Agustus 2025. ,00.00
Kukira Ini Rumah
Kukira aku bangkit di tanah merdeka,
nyatanya aku berdiri di tanah derita.
Mereka bilang akan memeluk bangsa,
nyatanya mereka hanya menanam luka.
Aku bertahan di rumah sendiri,
nyatanya seperti aku dipaksa pergi.
Mencoba mencari bangsa berjati diri,
nyatanya mereka membuatnya jadi ilusi.
Kukira ini rumah,
ternyata ini tempat sampah.
Bertebaran manusia bermasalah.
Kami, orang kecil tak berdaya dijajah
Fisik kami terbebas dari kuasa kolonial,
tapi mereka memenjara emosional.
Apakah nurani mereka terpental?
Hingga tega membuat kami jadi tumbal?
By: Vya Kim
Merdeka, Tapi Tidak Merdeka
Oleh Lovanna_grey
Abad demi abad sudah berlalu,
Tahun demi tahun juga telah berlalu.
Namun, adakah kemerdekaan yang kita rasakan?
Kemerdekaan yang benar-benar merdeka?
Ataukah, kemerdekaan hanya sebuah janji semata?
Tikus-tikus berdasi itu cukup licik
Membombardir rakyat kecil hanya untuk kepuasan pribadi
Menari-nari di atas penderitaan kaum pribumi
dengan tumpukan rupiah yang setinggi gunung
Hei, tikus-tikus berdasi!
Merah putih itu cukup suci untuk berkibar di negeri yang gelap
Sebuah simbol perjuangan, yang kini terinjak sunyi
Nyanyian pilu itu terdengar lara
Menambah luka baru yang semakin menganga
Hai, tikus berdasi!
Dengarkanlah hati rakyat yang kau dustai!
Bebaskan penderitaan ini dengan segala tindak tanduk kasarmu!
Kami ingin merdeka seperti janji Seokarno!
Bukan dijajah oleh penguasa sendiri!
Terang Yang Redup
Nama penulis: Ayu Anggita
Terang itu terlihat remang
Cerah itu terlihat samar
Pelangi tak kunjung datang
Hanya mendung yang membentang
Seribu tanya tanpa suara
Satu langkah tiada berguna
Tatap mata saling mencela
Menyuarakan udara yang hampa
Kilauan cahaya itu tak lagi sama
Membekas luka dalam kenangan
Asmara jiwa tak lagi menyala
Redup dan padam tanpa harapan
Masihkah ada bentuk nyala rasa itu?
Musnahkah sudah merdeka dalam cinta?
Kapankah rasa terpenjara ini akan sirna?
Akankah terus selamanya tanpa bicara?
Jember, 04 Agustus 2025
Sangkar Garuda
Nama penulis: Grace Gultom
Sayap garuda dulu bebas membentang,
Menembus batas cakrawala.
Kini ia hanya diam dan terpasung,
Oleh jerat bangsa kita.
Mereka berkata kita merdeka!
Tetapi hutan dibakar dan laut dikuras besar,
Rakyat hanya bisa meringis dalam tawa,
Karena kerakusan yang terus merambat liar.
Anak-anak menjajakan mimpi di jalanan,
Dibawah tiang yang kosong maknanya.
Sementara pemimpin bersembunyi dalam perjamuan,
Di balik janji-janji palsunya.
Garuda bukan lagi penjaga langit,
Melainkan patung di tengah ironi.
Negeri ini bernyanyi dengan suara pahit,
Lagu merdeka tidak lagi terdengar berseri.
Titimangsa:
Jambi, 04 Agustus 2025
Tidak baik-baik saja.
Wahai Tuhan yang maha esa..
Yang kuasa,lagi bijaksana..
Tolong dengarlah aliran suara..
Yang berasal dari hamba mu yang lemah..
Tuhan...
Apakah bangsaku telah merdeka?..
Akankah bangsaku terus di jajah?..
Para manusia yang hidup dengan serakah!
Mengambil segala yang bukan miliknya..
Wahai para penerus bangsa!
Yang di banggakan oleh negara..!
Namun membuat riuh di luar sana..
Tidak kah engkau malu pada sang pencipta?
Engkau terbuat dari tanah
Dan kelak akan kembali padanya (Tuhan)
Lantas, mengapa dengan angkuhnya engkau bertindak seolah yang paling berkuasa?..
By:angenan_wadon47
(Nur Lita Wahyu Agustin)
Harapan Kebebasan
Karya : Ikhfa Aprilia
Kulihat kain membentang diatas tiang
Dengan jahitan jahitan penuh harapan
Keberanian untuk menang
Kesucian akan tenang
Jiwa yang ragu membelenggu
Hati terikat rantai yang tak terlihat
Tak kasat mata tapi terasa berat
Menghambat langkah membungkam suara
Ku dengar kicauan kicauan tak pasti
Dari atas langit yang ku anggap berarti
Tidak kah lebih indah dari mimpi
Yang ku nantikan sepanjang hari
Berjalan hidup dengan penuh harap
Mencari jawaban pertanyaan hati
Ragu tak lagi membelenggu
Kebebasan sejati yang ku tunggu
Bandung, 4 Agustus 2025
Sangkar Emas
Karya: Dwi Fitriani
Keberuntungan memang terlihat padaku
Pernahkah kau tahu bagaimana hidupku?
Berpijak pada istana megah
Melindungi terik dan hujan dari segala arah
Ribuan kertas merah menjadi sasaran
Dengan siapa aku berteman?
Sedang kau bertahan karena tujuan
Masih adakah ketulusan?
Wahai ayah dan bunda
Mengapa kau jaga fisikku sedang jiwaku terkekang
Menatap hampa kemewahan bagai bencana
Mengukir luka menjemput tangis
Tenggelamkan aku pada lautan derita
Tuhan, bebaskan aku dari sangkar emas
Izinkan kakiku melangkah merengkuh dunia
Bergandeng tangan pada mereka yang berhati tulus
Selatpanjang, 04 Agustus 2025
Ironi Merdeka
Nama penulis: Jose Alexandre
Tujuh belas Agustus, gema sakral dari masa lalu
Kala merah putih pertama kali mencium angkasa biru
Teriak "merdeka!" menggelegar dari jiwa yang pilu,
Melepas rantai, memeluk asa, menatap masa baru.
Keadilan kini bermain peran
Tajam ke bawah, tumpul ke kalangan yang dominan
Yang benar ditikam fakta, yang salah mendapat pembenaran
Di negeri ini, keadilan kerap mati perlahan
Jika ini adalah merdeka,
Mengapa masih banyak yang tak punya daya?
Mengapa keadilan harus tunduk pada nama dan harta?
Mengapa kebenaran sering kali terbungkam suara?
Merdeka, kini hanya seremonial tahunan
Penuh lagu, bendera, dan pidato penuh harapan
Diluaran sana, luka tetap tak terbantahkan
Ironi merdeka: lantang terucapkan, terjajah terbalut dalam kepahitan
Titimangsa: Sidoarjo, 5 Agustus 2025
Vampir Merdeka!
Nama penulis: Salmiati
Mata penguasa menatap penuh senyum.
Rakyat-rakyat jelata bertebaran bagai berlian dimatanya.
Bagai cuan-cuan darah yang siap dihisap.
Lewat mereka, rakyat jelata tak tahu apa-apa.
Vampir merdeka!
Simbol menghisap darah rakyat jelata.
Haus menggerogoti hingga menyiksa kewarasan mereka.
Tanpa sisa, lenyap tak bersuara.
Vampir merdeka!
Simbol tontonan menyenangkan bagi penguasa.
Berlomba-lomba menguliti hak-hak sampai ke tulang belulang mereka.
Dihisap, Dirajam, diiris, bagai pelepas dahaga kerakusan penguasa.
Vampir merdeka!
Ajang memperkaya diri bagi penguasa.
Di mana lagi rakyat akan percaya?
Adakah pemilik hati bagai cahaya yang melepaskan belenggu dari vampir merdeka sang penguasa?
Titimangsa: Padang, 05 Agustus 2025
Tenggelam dalam lautan
Nama penulis: Gabe Putera
Laut yang jernih menjadi merah.
Rakyat kelaparan tiada yang peduli.
Aku jatuh dari keterpurukan.
Bagaikan pedang yang disayat.
Daun berguguran bagaikan tangisan.
Darah mengalir tanpa berhenti.
Titah menghancurkan segalanya .
Tikus tikus mulai berdatangan.
Fondasi Rakyat mulai berganti wajah.
Wajah yang berseri berubah murung.
Bagaikan wajah yang dilumuri darah.
Lambang lambang jatuh.
Aku sama sama menyesal.
Kegelapan mengalir begitu saja.
Jelas jelas dunia damai.
Lalu kenapa kehancuran baru dimulai.
Titimangsa: Bali, 5 agustus 2025
PERJUANGAN YANG BERANI
Nama penulis: Nurliani Sudrajat
Merdeka yang belum dijajah
Perjuangan kita masih panjang
Masih banyak harus dihadapi
Semangat api menyala berkobar!
Bukankah hindari dari sejarah?
Indonesia sudah sangat tua,
Yaitu delapan puluh tahun,
Sekarang sudah sangat maju
Hargai dan cintailah negeri,
Karena tanah air negeriku,
Takkan ada berpindah tempat,
Hati bersih suci keberanian
Terima kasih para pahlawan,
Sudah hebat dengan kisahmu,
Cerita cerita membuat sedih,
Peduli, tanggung jawab bersama
Titimangsa: Tasikmalaya, 5 Agustus 2025 (20.35 WIB)
PARADOKS
Nama penulis: Milfa Yunita
Isi:
Katanya negara ini
Negara Demokrasi
Tapi, kau tahu sendiri
Kebebasan kita dikebiri
Katanya kita merdeka
Dari Belanda
Tapi nyatanya
Kita ditindas penguasa
Katanya bumi Nusantara
Kaya raya
Tapi nyatanya
Kita masih sengsara
Kenapa hanya katanya?Kapan kita merdeka?
Dengan makna
Yang sesungguhnya?
Medan, 06 Agustus 2025
Merdeka di Awal Kehancuran
Hilda Baiti
Pada malam yang sunyi
Kegelapan turut menyelimuti
Angin berbisik cerita lama
Tak sengaja terucap kata merdeka
Gemerlap warna-warni bintang
Langit hitam membentang
Dedaunan jatuh termakan waktu
Teringat nusantara tengah kacau
Keegoisan para pemimpin
Penderitaan yang orang rasakan
Kegelapan mulai berkuasa
Menghancurkan masa depan bangsa
Tak ada yang bisa dipercaya
Para pemimpin tergila harta
Awal kehancuran dimulai
Namun harapan tak pernah mati
Sang saka Merah Putih
Oleh : Lidiana
Berkibarlah benderaku
Berkibarlah sang saka merah putih
Dengan lambang keberanian dan kesucian
Yang mempunyai makna perjuangan
Tiada hari tiada henti
Sang pejuang membela negara ini
Mereka rela mengorbankan jiwanya
Untuk mempertahankan negara ini
Engkau rela mati di tangan penjajah
Untuk negara ini,
Engkau rela hidup miskin untuk negara ini,
Engkau rela hidup sederhana demi mempertahankan negara ini.
Merah putih di dadaku
Marilah bangsa bela negara
Memperjuangkan negara ini
Dengan memperingatinya sebagai pertanda bentuk menghargainya.
SEBUAH DONGENG KEMERDEKAAN
Oleh: Galuh Duti
kemerdekaan itu memusnahkan penjajah
banyak pesan di buku-buku sejarah, pendidikan, serta wajah-wajah orang tua
di kelas merdeka anak-anak mewarna bendera
menghafal lima sila sampai dada mereka
kemerdekaan itu suara koran, radio, televisi
riuh megafon di jalanan kampung: menelusup ke telinga-telinga
jalanan aspal, jembatan, dan kereta listrik
bendera yang berkibar setiap hari nasional
tetapi dalam puluhan dekade
kemerdekaan adalah dongeng masa kanak-kanak
ceritanya banyak dibaca dari kitab perjuangan
setiap melihat dunia, orang-orang terjerat suaranya sendiri
lalu, kemerdekaan seperti keinginan ambisius
alih-alih pulih ternyata pekik mereka terdengar seperti disapih
sorak sorai merdeka seperti kendaraan macet
semua cuma rencana yang digagalkan oleh sesama
Malang, 10 Agustus 2025
Suara Hati Lambang Garuda
By: Ulfa Dwi Faradila
Bintang yang Bersinar...
Menyinari jalan, membawa terang....
Tapi kini semakin redup....
Dipenuhi kemaksiatan, kehilangan cahaya....
Sebuah rantai kokoh, kini berkarat Runtuh.....
karena hilang rasa kemanusiaan....
Ego dan hawa nafsu menutupi hati.....
Menghancurkan keadilan, menghancurkan diri.....
Pohon besar indah, bersedih dan sakit....
Melihat perpecahan bangsa, kehilangan arah....
Hanya karena membanggakan daerah sendiri....
Tak ada musyawarah yang baik, tak ada persatuan....
Keadilan bangsa, tenggelam dalam ketamakan.....
Demi kepentingan pribadi, keadilan hilang...
Ketamakan seorang iblis, menghancurkan bangsa.......
Menyisakan kesedihan, menyisakan duka....
Tegal , 13 Agustus 2025
Perjuangan Merdeka Dalam Jiwa:
By: Kevin Kurniawan
Di jalan yang panjang, kami berjalan bersama
Menuju kemerdekaan, yang masih jauh dari kata
Kami berjuang untuk hak-hak kami, untuk kebebasan
Tapi masih banyak rintangan, yang harus kami hadapi
Ketergantungan ekonomi, membelenggu kami
Keterbatasan akses, membuat kami terjajah
Kami menuntut keadilan, kami menuntut kebebasan
Tapi mereka tidak mau mendengar, mereka tidak mau mengerti
Kami terus berjuang, kami tidak menyerah
Kami yakin bahwa suatu hari, kami akan merdeka
Kami ingin hidup dengan martabat, tanpa belenggu
Kami ingin hidup dengan kebebasan, tanpa penindasan
Di Balik Sorak Kemerdekaan
By: Girl Alghifar
Sorak sorai memenuhi udara,
bendera berkibar di antara langit biru.
Namun di dada, luka tak mereda,
terjajah oleh janji yang tak pernah terpenuhi.
Langkah bebas menapak tanah sendiri,
tapi arah dibatasi garis tak kasat mata.
Kata “merdeka” lantang di bibir,
namun hati terkunci dalam ruang gelap.
Di setiap pesta perayaan yang meriah,
ada bisik sunyi yang tak terdengar.
Tentang mimpi yang tak diizinkan tumbuh,
dan suara yang dibungkam tanpa bekas.
Benderaku gagah menatap angin,
tapi jiwa ini masih berperang sendiri.
Di balik sorak kemerdekaan,
ada kebebasan yang tak pernah pulang.
Kemerdekaan yang Tergadai
PERSONIFIKASI KEMERDEKAAN
--kingrasastra
malam menggantung, menyelimuti kata-kata.
mereka yang berteriak kini disumpal hampa.
mulut-mulut terkunci, terisi sisa-sisa
janji palsu, seolah-olah semua baik-baik saja.
angin berdesir membawa suara dari jauh,
suara parau yang meminta ruang teduh.
tangan terulur disambut tinju yang rapuh,
sebagai balasan atas janji yang terbunuh.
saat lidahku ingin berkata yang benar,
babi-babi datang menertawai di luar.
kepala babi dikirim, jadi bukti yang kasar,
bahwa keberanian hanya dipinjam sebentar.
di sini kemerdekaan hanya jadi nama.
ia tak lagi punya mata untuk melihat hama.
mata ditutup, lidah dipotong, tangan dilema,
ia hanya hidup dalam narasi yang sama.
Medan, 14 Agustus 2025
Apalah Arti Kata Merdeka
Karya: Uswatun Chasanah
Senja kini telah berganti malam
Sang Surya telah tenggelam dalam peraduan
Namun pedagang sang penguasa jalan
Masih berlalu lalang menjajakan barang
Kala ku pandang kolong jembatan
Nampak tubuh renta tengah terlentang
Selembar kerdus bekas perabotan
Di pakainya untuk sekedar memberi kehangatan
Perih teriris amat kurasakan
Di depan mata kemiskinan merajalela
Berat sungguh nasib rakyat jelata
Penuh derita dan air mata
Apalah arti kata merdeka
Jika penghuninya masih sengsara
Sedangkan para petingginya berbahagia
Tanpa memikirkan nasib rakyatnya
Terpatahkan Kenyataan
Nama penulis: Allya Almahira
Di bawah bendera yang berkibar tinggi
Harapan dan keinginan berkobar
Merdeka kata mereka, tapi jiwa terjajah
Bebas, tapi langkah kita dibatasi oleh bayang-bayang
Dinding-dinding kata yang membungkam suara
Membisu seolah tak pernah salah
Kita merdeka, tapi itu impian yang tak tergapai
Karena rantai tak terlihat mengikat jiwa
Hay, Negaraku, bangun
Jangan biarkan bumimu terjajah lagi
Jangan biarkan kemerdekaan ini hanya menjadi angan
Secercah harapan seolah tak menjadi kenyataan
Bayang-bayang masa lalu membayangi hati
Merdeka, tapi terjajah dalam diam
Mencoba mencari jalan keluar
Tapi nyatanya kebebasan sejati masih jauh terdiam.
Titimangsa: Lampung, 15 Agustus 2025
Wahai Indonesia
Nama penulis: Helda Melani
Garuda Indonesia berdaulat
Merdeka yang membawa tekad
Berjuang tanpa pamrih
Segera pulih untuk tumbuh
Negri indonesia merdeka 80
Berjuang yang tak fana
Jangan sampai terlena dalam duka
Bawa kemerdekaan ini dengan nyata
Wahai Indonesia
Negri pujaanku
Cahayamu ada di pundakku
Jangan ragu untuk berusaha
Mari bumikan karya
Langitkan mimpi
Merajut asa yang tinggi
Mewujudkan negri yang adil
Titimangsa: Bandung, 10 Agustus 2025
Merdeka dalam Deras Air Mata
Karya: M Dzakwan Iftikar Silalahi
Merah maknakan berani
Putih maknakan suci
Benarkah demikian wahai pusaka kami?
Tidakkah kita telah dikelabui?
Lembayung senja merah merona
Bagai merah yang nampak di hidungnya
Selepas tangis yang menitis dari netra
Ia terjajah dalam merdeka
Kuhampiri ia dengan retina berderai
Rambutnya tersingkap tak terurai
Tangannya lemas lagi lunglai
Hatinya bak tertiup baday
Kenapa, Bu?
Tanyaku padanya
Belajarlah yang rajin anakku, kelak kau akan tahu
Dengan lirih mulutnya berbicara
Cianjur, 15 Agustus 2025
DEJAVU
Karya : Shinta Wahyuni
Pada suatu petang nan damai
Secangkir teh hijau bersama roti kering menemaniku yang tengah berandai-andai
Hingga rasa bosan kian menghampiri
Membuat jemariku meraih benda pipih; hendak mencari sesuatu yang dapat hiburkan diri
Ibu jari mengusap-usap layar
Terhenti pada suatu rekaman gambar hidup yang terputar
Sepasang netraku tertuju pada seekor katak tengah meloncat-loncat menghindari ular
Menyelamatkan diri—melewati setiap belukar
Tampak sang katak akhirnya terbebas dari si binatang melata
Ia meloncat kegirangan pulang pada perairan
HAP!
Begitu saja, tubuh sang katak lenyap saat seekor ikan Toman melahap
Bebas? apa dikata?
Memanglah ia selamat dari predator darat
Tetapi di kediamannya pun masih saja terkena jerat
Ah. Pemandangan ini seperti ... peristiwa yang cukup akrab dan terasa begitu dekat
_Tasikmalaya, 15 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar