Aroma Hujan dan Teh Jahe

 



Judul: Aroma Hujan dan Teh Jahe

Nama: Jose Alexandre 😎

Isi: 

Aroma Hujan dan Teh Jahe


Langit di Surabaya sore itu muram, sama seperti gurat lelah di wajah Riana. Di pangkuannya, Bima, putra kecil mereka yang baru berusia enam bulan, akhirnya terlelap setelah drama rewel yang seolah tiada habisnya. 


Aroma minyak telon yang menenangkan berbaur dengan bau hujan yang mulai membasahi aspal di luar jendela.


Rumah terasa sunyi. Keheningan yang dulu, saat hanya ada ia dan Ardi, terasa intim dan penuh cinta, kini terasa sedikit berjarak. Bukan karena cinta itu hilang, tapi karena terkubur di bawah tumpukan popok, jadwal menyusui, dan malam-malam tanpa tidur.

Pintu depan berderit pelan. Ardi pulang dari bekerja. Suaminya itu masuk dengan langkah yang sama lelahnya, tas kerja di bahu kanannya terlihat berat. Ia tersenyum pada Riana, senyum yang sama hangatnya, namun matanya tak bisa menyembunyikan penat.

"Assalamualaikum," sapanya pelan, takut membangunkan Bima.
"Waalaikumsalam, Mas." jawab Riana, suaranya nyaris berbisik.
Ritual mereka berjalan seperti mesin. Ardi meletakkan tas, mencium kening Bima sekilas, lalu beranjak ke kamar mandi. Riana dengan hati-hati memindahkan Bima ke boks bayinya. Setelah itu, ia menyiapkan makan malam untuk Ardi. Semuanya serba praktis, tanpa obrolan panjang, tanpa tawa renyah yang dulu sering mengisi ruang makan mereka. Komunikasi mereka kini lebih sering seputar, "Bima sudah minum susu?" atau "Popoknya tinggal berapa?"

Malam itu, saat mereka duduk di sofa setelah makan malam, keheningan kembali mengambil alih. Ardi sibuk menggulir layar ponselnya, membaca berita pekerjaan yang seolah tak ada habisnya. Riana menatap punggungnya. Punggung yang dulu sering ia peluk tiba-tiba terasa begitu jauh.

Sebuah isakan kecil tanpa sadar lolos dari bibirnya.
Ardi langsung menoleh, raut wajahnya berubah khawatir. "Kenapa, Sayang? Bima bangun lagi?"
Riana menggeleng, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. "Nggak. Bima tidur."

"Lalu kamu kenapa menangis?" Ardi meletakkan ponselnya, mendekat, dan merengkuh bahu Riana.
Riana tak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dada Ardi. Ia rindu ini. Rindu dekapan hangat tanpa harus di dahului oleh tangisan bayi atau keluhan soal pekerjaan.

"Aku kangen," bisik Riana akhirnya.
Dahi Ardi berkerut. "Kangen? Kangen siapa? Kita kan setiap hari ketemu."
Riana mengangkat wajahnya, menatap lekat mata suaminya. "Aku kangen kita, Mas. Kangen Ardi dan Riana. Bukan cuma Ayah dan Bundanya Bima."

Kata-kata itu menghantam Ardi telak. Ia terdiam. Selama ini, ia pikir dengan bekerja keras dan memastikan semua kebutuhan terpenuhi, ia sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Ia lupa, bahwa di antara peran-peran baru itu, ada sepasang kekasih yang hubungannya butuh dirawat. Ia melihat mata Riana yang sembap, kantung mata yang menghitam, dan sadar betapa ia telah menyepelekan kelelahan emosional istrinya.

Tanpa berkata apa-apa, Ardi berdiri. Ia berjalan ke dapur. Riana mengira ia akan mengambil minum, tapi beberapa menit kemudian, Ardi kembali dengan dua cangkir teh jahe hangat dan sebuah kotak kayu tua dari atas lemari.

"Hujan di luar," kata Ardi pelan, meletakkan cangkir dan kotak itu di meja. "Waktu paling pas buat minum teh jahe buatanmu, tapi kali ini biar aku yang buat."

Ia lalu membuka kotak kayu itu. Isinya adalah album foto pernikahan mereka.
Ardi mengambil satu cangkir dan memberikannya pada Riana. Uap hangatnya menerpa wajah Riana, membawa aroma jahe yang menenangkan.

"Ingat foto ini?" Ardi menunjuk foto pertama. Mereka berdua tertawa lepas di pelaminan, dengan sisa nasi kuning menempel di pipi Ardi karena Riana sengaja menempelkannya.
Riana tersenyum kecil. "Ingat. Kamu ngambek seharian gara-gara itu."

Mereka membuka lembar demi lembar. Mengenang kembali perjalanan bulan madu mereka yang nekat ke Bromo hanya dengan ransel, momen saat Ardi panik ketika Riana mengidam mangga di tengah malam, hingga foto-foto USG Bima yang mereka pajang dengan bangga di kulkas.

Tawa kecil mulai terdengar di antara mereka. Tawa yang tulus, bukan sekadar basa-basi. Tangan Ardi tak lagi menggenggam ponsel, melainkan menggenggam erat tangan Riana.
"Maaf ya," ucap Ardi tulus. "Aku terlalu fokus jadi 'ayah' sampai lupa caranya jadi suamimu."

Riana menggeleng. "Aku juga, Mas. Aku terlalu sibuk jadi 'bunda' sampai lupa kalau aku adalah 'istrimu', sahabatmu."

Hujan di luar semakin deras, namun kehangatan di dalam rumah kecil mereka terasa berkali-kali lipat lebih kuat. Mereka tidak mengucapkan kata-kata cinta yang muluk. Cinta mereka malam itu hadir dalam bentuk secangkir teh jahe, dalam lembaran album foto yang sedikit usang, dan dalam kesadaran bahwa keluarga bukanlah akhir dari sebuah romansa, melainkan babak baru yang membuatnya semakin dalam.

Ardi menarik Riana ke dalam pelukannya. Kali ini, dekapan itu terasa berbeda. Bukan lagi dekapan untuk menenangkan, melainkan dekapan untuk merayakan. Merayakan bahwa di tengah riuh tangis bayi dan penatnya rutinitas, cinta mereka masih ada di sana, utuh dan sabar menunggu untuk ditemukan kembali. Di atas boksnya, Bima tertidur pulas, seolah memberi restu pada ayah dan bundanya untuk kembali menjadi Ardi dan Riana sejenak.

Titimangsa: Paraguay, 30 September 2025

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian