Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel




 Judul: Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel 

Nama: Putri Kasih Maharani 


Isi: Di bawah langit kelabu yang bergelayut di atas menara-menara batu, Istana Eirandel berdiri bagai syair yang tak pernah rampung. Dindingnya diselimuti ivy yang menua bersama waktu, lorong-lorongnya menyimpan bisikan masa lampau, dan setiap langkah di lantainya bergema seperti kenangan yang enggan mati. Di sanalah Lady Elara Lysandre, pewaris satu-satunya keluarga Lysandre, menatap taman mawar yang diwariskan ibunya. Mawar-mawar itu bukan sekadar bunga, setiap kelopaknya menyimpan jejak cinta yang tumbuh di antara darah bangsawan dan duri politik. “Jika cinta hanyalah permainan takhta, aku tak ingin memainkannya,” bisik Elara pelan. 


Dari balik kaca patri berhias lambang keluarga, ayahnya, Lord Alaric Dravenwood mengawasinya dalam diam. Ia bukan sekadar penguasa, ia adalah pria yang kehilangan istrinya demi perjanjian yang menyatukan dua kerajaan. Sejak hari itu, cinta baginya hanyalah kelemahan. Sejak kecil, Elara tak pernah menerima pelukan hangat atau kata sayang dari ayahnya. Baginya, sang ayah adalah sosok batu, tegas, dingin, dan selalu memikirkan kerajaan lebih dulu. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa ia hanya pewaris tahta, bukan anak yang dicintai.


Namun, segalanya mulai berubah ketika Sir Silvain Corven, kesatria tua pembuat arloji, datang membawa sebuah benda warisan mendiang ibunya, arloji yang hanya berdetak jika pemiliknya benar-benar dicintai. “Arloji ini,” ujarnya lembut, “akan berhenti jika hatimu dikhianati.” Lord Alaric menertawakan takhayul itu, "Terima kasih sudah memberikan arloji berharga ini paman." Ujar Elara dengan mengambil arloji itu dan menggantungkan arloji itu di lehernya, tanpa harapan. 


Namun anehnya, jarumnya bergerak pelan setiap kali ia melewati ruang kerja ayahnya. Ia mengira itu kebetulan… sampai suatu malam hujan turun dan ia tak sengaja mendengar suara di balik pintu perpustakaan. “Pastikan taman mawar selalu dirawat,” suara Lord Alaric terdengar lirih. “Itu satu-satunya tempat di mana Elara merasa dekat dengan ibunya.” Elara terdiam. Hatinya bergetar.


Beberapa hari kemudian, ia menemukan buku dongeng masa kecilnya yang telah rusak, kini terjahit rapi di atas meja kamarnya. Di hari ulang tahunnya, ia menerima pena emas yang dulu ia inginkan diam-diam saat kecil. Dan setiap kali ia jatuh sakit, ayahnya selalu meninggalkan segelas teh madu di samping ranjang sebelum fajar menyingsing. Tak ada pelukan. Tak ada kalimat, “aku menyayangimu.” Namun arloji itu terus berdetak… lebih cepat dari sebelumnya.


Dan di suatu pagi yang hening, ketika matahari menerobos jendela kaca patri, Elara akhirnya mengerti, cinta ayahnya tidak pernah pergi. Ia hanya tidak tahu cara mengucapkannya. Mawar-mawar itu. Buku dongeng itu. Teh madu itu. Semua adalah bahasa cinta yang tak bersuara, dan selama ini, ia hidup dikelilingi cinta tanpa sadar. Di balkon yang sama, Elara tersenyum untuk pertama kalinya. Bukan senyum putri yang merindukan pelukan, melainkan senyum seorang anak yang akhirnya menemukan rumahnya… dalam cinta ayah yang tak pernah berhenti berdetak. 



Titimangsa: Gresik, 29 September 2025


Komentar

  1. Huhuhu 😭😭😭 pria yang mengungkapkan cinta dalam diam itu keren, tapi kan cewek itu mudah overthinking😅😅 mantap kakak, keren

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian