Di Bawah Pohon Aranea
Judul: Di Bawah Pohon Aranea
Karya: Wahyu Rey Persada Situmorang A. Md. Ak., C.TGF., C.PS., C.PI
Angin sore merambat lembut di lembah Luminara, tempat di mana cahaya bintang turun lebih cepat dari senja. Di bawah pohon Aranea—pohon purba dengan daun bercahaya biru—Aurelia berdiri memeluk mantel ayahnya yang lusuh. Bayangan seorang pria muncul dari kabut cahaya.
“Papa?” Suaranya bergetar.
Pria itu, Ezra, tersenyum samar. “Lia, akhirnya kau datang.”
Lima tahun Aurelia hanya berbicara dengan kenangan. Kini, ayahnya berdiri di depannya, seolah waktu dan maut tak lagi berkuasa.
“Ini nyata?” tanyanya.
Ezra mengangguk pelan. “Di Luminara, antara hidup dan arwah hanya sehelai kabut. Kita diberi waktu sekali seumur hidup untuk bicara, untuk menebus kata yang tertinggal.”
Kalau ini mimpi, jangan biarkan aku bangun, batin Aurelia.
Dari balik batang pohon, Orion pemuda berambut perak, sahabat sejak kecil dan muncul sambil menenteng lentera bintang.
“Aku menebak kau akan memaksa masuk ke ranah ini,” gumamnya, separuh kesal, separuh lega.
Aurelia menoleh cepat. “Orion, kenapa kau tidak memberitahuku Papa bisa kembali?”
“Karena ini pilihanmu. Pohon Aranea hanya memanggil jiwa yang paling dirindukan,” ucap Orion lembut. “Aku hanya memastikan kau tidak tersesat.”
Ezra tertawa pelan. “Anak ini selalu menjaga, ya? Seperti dulu saat kalian kecil.”
Wajah Aurelia memanas. “Papa!”
Ezra menatap anaknya penuh rindu. “Bagaimana ibumu?”
“Mama masih menunggu. Kadang terlihat kuat, kadang aku dengar isaknya di kamar. Aku mencoba jadi penopang, tapi rasanya dunia berhenti sejak Papa pergi.”
Ezra menarik napas panjang. “Maafkan Papa. Aku berjanji pulang setelah ekspedisi terakhir, tapi badai sihir itu.” Suaranya pecah.
“Mengambilku sebelum sempat mengucapkan selamat tinggal.”
Air mata Aurelia menggenang. “Kenapa harus Papa yang pergi?”
Ezra melangkah mendekat. Meski hanya roh, kehangatan aneh memancar dari sosoknya.
“Karena cinta, Lia. Aku memilih melindungi rekan-rekanku. Kadang cinta berarti pergi agar yang lain bisa hidup.”
“Papa,” batin Aurelia bergetar.
Orion menyentuh bahunya. “Lia, kau masih punya Mama, dan aku.”
Aurelia menatapnya, menangkap ketulusan yang selama ini ia pura-pura tak mengerti. “Kenapa kau selalu ada?”
Orion menahan napas. “Karena janji pada ayahmu, dan karena aku—” ia melirik Ezra, “aku mencintaimu, Aurelia. Sejak dulu, sebelum kau merasakan kehilangan.”
Ezra terkekeh, matanya bersinar hangat. “Kupikir kau akan menunggu sampai aku benar-benar jadi debu bintang untuk mengatakannya.”
Jantung Aurelia berdegup cepat. Cinta? Orion? Semua luka dan kehilangan tiba-tiba menemukan tempatnya.
“Aku,” kata-kata itu tercekat. “Aku takut kehilangan lagi.”
Orion meraih tangannya. “Kau tidak akan kehilangan. Aku tak bisa menggantikan ayahmu, tapi aku bisa jadi rumah yang kau pilih.”
Ezra menatap mereka penuh restu. “Cinta bukan untuk menggantikan, Lia. Cinta adalah cara baru untuk pulang.”
Cahaya pohon Aranea mulai meredup. Waktu mereka hampir habis.
“Papa!” Aurelia menggenggam tangan ayahnya yang mulai memudar. “Jangan pergi lagi.”
Ezra tersenyum lembut. “Aku tak pernah benar-benar pergi. Selama kau dan ibumu saling menjaga, selama hatimu terbuka untuk Orion, aku akan selalu pulang di setiap bintang yang kau lihat.”
Aurelia menangis. Orion memeluknya, menyalurkan kekuatan tanpa kata.
“Jaga ibumu, dan jaga hati kalian,” pesan Ezra. “Cinta keluarga adalah sihir tertua, lebih kuat dari kematian.”
Tubuh Ezra larut menjadi serpihan cahaya. Pohon Aranea berpendar sekali lagi, lalu kembali tenang.
Keheningan menyelimuti. Aurelia menatap langit, menahan air mata.
“Dia benar-benar pergi,” bisiknya.
Orion menggenggam bahunya. “Tidak. Dia hanya pulang ke tempat yang menunggu. Kita yang harus melanjutkan.”
Aurelia mengangguk. Di balik duka, ada hangat yang tak bisa dijelaskan.
“Tentang yang kau katakan tadi,” ucapnya pelan.
Orion menegang. “Kau tak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu.”
Aurelia tersenyum kecil. “Aku tidak ingin kau menunggu terlalu lama.”
Mata Orion melebar. “Apa itu berarti—”
“Aku mencintaimu juga,” potong Aurelia berani.
Senyum Orion pecah seperti fajar. Ia menariknya ke dalam pelukan hangat dan pelukan yang tak hanya milik kekasih, tapi juga keluarga yang baru terbentuk.
Malam itu, mereka berjalan pulang melewati lembah Luminara. Bintang-bintang menari di atas langit, seolah Ezra sendiri menabur restu dari dunia lain. Di setiap langkah, Aurelia mendengar suara batin ayahnya: Jaga cinta itu. Cinta membuat keluarga tetap hidup, bahkan ketika maut menutup mata.
Di kejauhan, rumah kayu keluarga tampak seperti pelukan setelah malam panjang. Orion menoleh sambil tersenyum. “Pohon ini bukan hanya tentang perpisahan.”
“Apa maksudmu?” tanya Aurelia.
“Ini tentang awal baru,” jawabnya.
“Tentang keluarga yang tak pernah benar-benar berakhir.”
Aurelia memejamkan mata, merasakan ketenangan lahir dari cinta yang diterima sepenuh hati. Dalam senyap bintang, ia mendengar bisikan samar ayahnya: Rawatlah cinta itu, maka ia akan menuntunmu pulang.
Aurelia membuka mata, menatap Orion dengan keyakinan baru. “Mari kita pulang.”
Mereka menuruni lembah, tangan tetap bertaut. Pohon Aranea berdiri megah di belakang, memancarkan cahaya biru seperti janji: cinta yang dijaga akan selalu menemukan jalan pulang melewati waktu, dunia, dan bahkan kematian.
Titimangsa:
Medan, 29 September 2025
Pohon bukan hanya makhluk hidup tapi pohon juga bisa menjadi saksi bisu. Saksi cinta, saksi kematian dan bisa juga saksi dari sebuah tragedi.
BalasHapusCinta adalah cara baru untuk pulang
BalasHapusYa, ampuuun..., aku pun ingin cinta yang saling seperti Lia dan Orion. Keren ceritanya
BalasHapusKeren, andai ada pohonnya di rumahku 😅😅
BalasHapus