Judul: Di Ujung Atap Rumah
Nama: Ratih
Isi:
Arga tak pernah menyangka akan menikah lagi. Duda empat puluh tahun dengan seorang anak remaja, Dira, yang keras kepala, sudah cukup membuat hari-harinya melelahkan. Tapi hidup menuntunnya pada Naya, perempuan muda dua puluh lima tahun, yang sama keras kepalanya dengan Dira.
Sejak awal, pernikahan ini terasa seperti bom waktu.
“Kenapa aku harus ikut aturanmu, Bu Naya? Kamu bukan ibuku!” bentak Dira di meja makan.
Naya memasang sendok dengan keras. “Jika aku siapa-siapa, apa aku berjuang tidur di rumah ini, masak, bahkan tahan dengan sikapmu?”
Arga mengangkat tangan, berusaha menenangkan. “Cukup kalian berdua“
Tapi Dira bangkit, kursi bergoyang, lalu melarikan diri keluar rumah.
Arga ingin mengejar, tapi Naya lebih dulu berdiri. “Biarkan aku. Jika aku istri rumah ini, aku harus berani menghadapi anakmu. Jika tidak, aku hanya akan menjadi tamu.”
Arga menatapnya, separuh khawatir, separuh kagum. Ia tahu, badai besar baru saja dimulai.
Malam itu, hujan deras. Dira berdiri di teras, enggan masuk meski tubuhnya gemetar.
“Apa kamu mau sakit?” suara Naya bergetar, tapi nadanya tetap tegas.
“Aku lebih baik sakit daripada harus lihat wajahmu setiap hari!” teriak Dira, air mata bercampur hujan.
Naya maju selangkah. “Kalau kamu pikir aku bahagia masuk ke rumah ini, kamu salah besar. Aku juga berjuang, Dira. Aku juga tersakiti tiap kali kamu menolak keberadaan ku.”
“Lalu kenapa kamu nggak pergi aja?!”
Hening. Hujan jatuh semakin deras.
Tiba-tiba, petir menyambar pohon di depan rumah. Cabangnya jatuh keras ke arah pagar, percikan listrik dari kabel yang putus menyambar ke tanah.
Dira lewat tersentak, hampir tergelincir ke tempat air berbahaya itu. Naya spontan menarik dirinya, terjatuh bersama di teras.
Keduanya diam, napas terburu-buru. Palpitasi jantung terdengar keras seperti suara hujan.
Dira melihat wajah Naya dari dekat. Untuk kali pertama, ia melihat bukan hanya keras kepala, tapi juga keberanian nyaris menjadi celaka demi menyelamatkannya.
Arga berlari keluar rumah, wajahnya panik.
“Dira! Naya!”
Dia menemukan kedua-duanya duduk di lantai yang basah, berpeluk satu sama lain, walaupun wajah Dira masih berlinang air mata.
“Aku hampir kesetrum, Pa…” bisik Dira, suaranya pecah. “Kalau bukan karena dia, aku mungkin sudah—“
Arga merapatkan kedua-duanya, memeluk erat.
Malam itu, tanpa kata-kata panjang, sebuah benteng runtuh.
Dira tidak langsung menyambut Naya sepenuhnya, tapi sejak kejadian itu, ia tak lagi mengusirnya. Dan Naya, meski masih keras kepala, mulai belajar melembut saat bicara.
Arga sering terdiam menatap keduanya dari jauh, dada penuh debar. Pernikahan keduanya memang dimulai dengan tegang, bahkan mematikan. Tapi justru di ujung bahaya, mereka menemukan sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar ikatan kertas nikah: keberanian untuk saling menjaga.
Di bawah atap rumah itu, meski penuh benturan, mereka akhirnya mulai membangun sesuatu yang bisa disebut keluarga.
Apakah terjadi sehari-hari setelah itu, kembar kembali berjudi duduk di atas meja makan tanpa banyak complaint, walaupun terkadang masih mendengus setiap kali Naya menegur. Tetapi Arga sudah bisa melihat semakin lama dibukakan ruang kecil di hatinya putrinya.
Suatu malam, ketika Dira sudah tidur, Arga melihat Naya di teras. Hujan baru reda, bau tanah basah masih ter lambung.
“Terima kasih,” bisiknya, jeritannya memeluk tangan Naya. “Jika malam itu kamu tidak ada, mungkin aku sudah kehilangan segalanya.”
Naya menghela napas, lalu tersenyum samar. “Aku tidak sempurna, Arga. Aku bahkan sering salah. Tapi aku tidak pernah main-game dengan rumah ini.”
Arga menariknya ke dalam pelukan, debar di dadanya menguat. Pertama kalinya sejak lama, ia merasa rumah ini benar-benar berdiri meski goyah, meski penuh retakan.
Karena di bawah atap yang sama, mereka akhirnya belajar menjadi keluarga.
Titimangsa: Bali, 28 September 2025
ðŸ˜ðŸ˜ menyentuh sekali, mungkin terdengar mustahil sesuatu yang retak bisa utuh kembali 🫠🫠tapi keren
BalasHapus