Keluarga
Judul: Keluarga
Nama: Mita
Isi:
Angin berembus pelan, menari di ujung rambutmu, seakan ingin membangunkanmu dari mimpi yang panjang. Kamu membuka mata, dan langit malam menyambutmu dengan gelapnya yang pekat. Suara jangkrik dan remah daun di halaman rumah terasa akrab, tetapi entah kenapa hatimu berdebar.
“Aku …, di rumah(?)” tanyamu ragu.
Di dekat pagar rumah, pohon mangga yang biasa kamu panjat dulu, menjatuhkan daun keringnya, menimbulkan perasaan akrab yang nyata.
“Kak, masuk! Ngapain kamu ngelamun di luar!” Teguran ibumu memecah senyap, menyapa telingamu dengan lembut.
Kamu terhenyak, jantungmu berdetak lebih cepat. Melihat ibumu meletakkan sapu di balik pintu, dan cahaya lampu teras memantulkan bayangannya, membuatmu membeku.
Tanpa sadar langkahmu menuju rumah terasa ringan …, penuh semangat bertemu keluarga.
“Ibuk, kangen banget!” teriakmu, sambil memeluknya erat. Wajah Ibu yang manis, dan bau sabun yang familiar membuatmu merasa aman sekaligus tenang.
Di ruang tengah, ayahmu sedang membaca koran, dengan kacamata yang senantiasa bertengger di hidungnya. Adikmu, Ren, yang biasanya selalu menantangmu, kini tersenyum nakal, matanya berbinar seperti ingin memulai pertengkaran kecil yang tak pernah benar-benar serius.
“Ada apa? Kamu kesurupan? Tiba-tiba peluk Ibuk,” celetuk Ibu heran, sambil menepuk pelan bahumu yang bergetar.
“Kayaknya Kakak kesurupan, Buk. Tadi dia ngelamun terus di teras,” sahut Ren, dengan seulas senyum nakal.
Kamu menatapnya dongkol, bersiap melempar sandal kalau perlu. Namun, Ibu bergegas melerai. “Sudah, sudah. Kalian makan dulu, kalau ini dilanjut, nggak akan pernah selesai!” sentaknya, melotot.
Ibu duduk di samping Bapak, mengelap meja dan sesekali mencuri pandang ke arahnya. Kamu dan Ren saling berpandangan.
“Pak, makan dulu, korannya bisa dibaca nanti,” cetus Ibu lembut, membuat Bapak tersenyum.
Kalian nyaris tertawa melihat Ibu yang biasanya galak berubah manis. “Sana makan!” tegurnya cepat.
Kamu bergegas mengikuti Ren ke dapur, meninggalkan keduanya dengan efek-efek cinta yang bermekaran.
Begitu sampai di dapur, kamu melihat meja makan sudah siap, aroma masakan rumah menguar, mengisi ruangan dengan kehangatan yang lama kamu rindukan.
“Kenapa bengong, Kak? Duduk, kalau nggak mau makan, gue aja yang habisin nanti,” ucap Ren, sambil duduk di kursinya.
“Iya, ini duduk,” balasmu.
Beberapa saat kemudian, Ibu dan Bapak menyapa dengan perhatian. Ren tetap nakal, mencuri nasi dari piringmu, tetapi semua tawa dan canda membuatmu merasa hangat dan aman.
"Kalian ini udah SMA lho. Udah pada gede, masih aja suka iseng. Nggak takut ibu kalian sakit?” tanya Bapak, menatap kalian dengan heran.
“Janganlah, Pak. Kalau Ibu sakit, nanti Bapak merana,” ledek Ren santai, lalu memasukkan sepotong paha ayam ke dalam mulutnya.
Sontak Bapak tersedak, nyaris mengeluarkan air yang baru saja diteguknya. Ibu pun menepuk pelan bahunya.
“Udah, udah, jangan dengerin kata Bapak. Sekarang kita makan aja,” sela Ibu, menatap tajam Ren.
Ren mengalihkan pandangannya ke arahmu, tidak berani menatap Ibu. Kebetulan posisi kalian berdempetan, tepat di samping, sedang Ibu dan Bapak ada di depan. "Kakak juga makan, dong," tegurnya, mengunyah makanannya.
Bapak dan Ibu langsung menjadikanmu sebagai pusat atensi. “Ada apa, Nak? Kamu baik-baik saja, ‘kan?” Bapak berujar khawatir, pun Ibu yang mengernyitkan dahi bingung.
Sedangkan kamu justru terdiam. Pandanganmu tertuju pada tanganmu yang masih baik-baik saja, tidak berkerut karena terlalu lama mengetik keyboard, atau kotor karena terlalu lama menggenggam tinta.
Kamu mengangguk pelan, walaupun hatimu merasa aneh.
Suara gelas yang bersentuhan, tawa ringan, dan canda sederhana. Semua seakan berkata, “Ini rumahmu, ini keluargamu.”
Di sini, dunia terasa sempurna. Ada Bapak, Ibu, dan seorang adik. ‘Kisah cinta harmonis dari keluarga yang lengkap’.
“Aku masih punya cinta dari keluarga.” Suara hatimu berbisik lembut.
Namun, dalam sekejap mata, dunia itu berubah. Bayangan keluargamu mulai redup. Tubuh mereka tampak bergoyang, lentur, dan samar, seolah menunggu untuk menghilang dari sisimu.
Meski begitu, aroma masakan Ibu senantiasa terasa di hidungmu, tawa adikmu masih membelai telingamu, dan senyum Bapak tetap menempel di ingatan.
Kamu menutup mata sejenak, membiarkan tawa dan aroma masakan itu meresap, menjalar, dan memeluk jiwamu yang kesepian.
"Kak, masakan Ibu yang paling enak. Terus jokes Bapak yang paling lawak dan kuno." Suara Ren terngiang-ngiang, berubah kabur, buram, dan menghilang.
“Kamu boleh jauh, tapi jangan lupa pulang ke Ibu.” Diikuti oleh suara Ibu.
Dan terakhir …, kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga.
Bapak.
“Mau si sulung atau si bungsu, bagi Bapak, kalian adalah anak-anak yang dititipkan Tuhan untuk Bapak jaga.” Itulah yang Bapak katakan saat kamu dan adikmu duduk di teras rumah, menatap tumpukan sampah yang disapu Ibu.
Tawa Ibu berubah menjadi gema yang perlahan memudar. Pelukan hangat menjelma dingin, dan setiap candaan berubah sepi. Saat kamu membuka mata, deretan komputer menatapmu dengan layar penuh notifikasi, suara telepon dan printer bersahut-sahutan, diiringi ketikan keyboard super cepat.
Rumahmu …, berubah menjadi kantor yang penuh dengan kesibukan. “Cuma khayalan, ya,” tuturmu, terkekeh ringan.
Meski begitu, senyum tipis tak lepas dari bibirmu saat matamu menatap tumpukan dokumen, bukan karena senang telah menumpuk pekerjaan, melainkan karena bayangan hangat keluargamu masih menempel, memberimu sedikit ketenangan di tengah kesibukan.
"Are you oke, Beb?" tanya Renata, temanmu, seraya menepuk pelan bahumu. Dia tampak khawatir, setelah melihatmu terbengong dalam waktu yang cukup lama.
Kamu menoleh, dan tersenyum padanya. “Nggakpapa, Nat,” jawabmu, seraya membiarkan aroma gulai ayam dan tawa keluarga membayangi pikiranmu untuk sejenak.
Renata mengangguk pelan. “Kalau ada apa-apa, bilang aja ke aku, ya,” imbuhnya.
“Iya, aman, Nat,” timpalmu.
Gadis itu tersenyum tipis, dan berlalu pergi, meninggalkanmu yang sedang menatap ke luar jendela kantor, berharap angin sore bisa membawa kembali sejumput hangat yang pernah kamu rasakan.
"Keluarga ..., ya," bisikmu.
Kamu sadar, bahwa romantis yang mesra, atau perasaan saling mengasihi itu, sudah kamu rasakan sejak lahir. Bukan hanya dari kekasih, pujaan hati, atau mantan terkasih, melainkan dari kehangatan sebuah keluarga.
Mereka bisa melakukan apapun untukmu, itulah cinta, walaupun kadang mengekangmu dengan aturan yang kamu pikir, merepotkan.
“Besok, aku mau pulang kampung," cetusmu, tersenyum tipis.
Karena sejauh apapun kamu berlari, pada akhirnya kamu hanya ingin pulang.
•••
Selesai
Titimangsa: NTB, 1 Oktober 2025

Komentar
Posting Komentar