Kristal Bening Terakhir
Kristal Bening Terakhir
By Laila Adri
"Saat waktu tak lagi bersamaku,
Hanya kenangan yang menemani,
Setiap kedipan mata membawa luka,
Namun, serajut senyum mengobati."
Ratna Saraswati
Cahaya putih ratu malam menembus malam sunyi. Senda gurau menggema di dalam bilik rumah sederhana. Seorang wanita tersenyum memandang sekitarnya. Bersama semilir angin yang menjalar dari jendela, helaian rambut putihnya membelai wajah keriputnya. Dia berdoa dalam jiwanya kepada Sang Pencipta.
'Wahai Yang Menggenggam Takdir, Yang Membolak-balikkan Hati. Aku meminta padamu. Jadikanlah setiap takdir yang kau tulis untuk mereka dengan takdir yang baik di sisi engkau. Tuntun mereka, menjadi manusia yang bisa memanusiakan makhluk lainnya. Hapus luka yang kutorehkan untuk mereka.'
Sedangkan dari sudut ruangan, anak-anaknya berdiri. Paras mereka yang tak lagi muda terlihat kaku, seolah menyimpan jarak yang terbentang luas penuh serpihan luka. Salah satu dari mereka berkata dingin. Dia adalah Arka Mahendra.
"Kalian urus wanita itu. Aku ingin pulang."
Mendengar kalimat itu anak kedua, Laras Maharani mengernyitkan alisnya. Otot-otot di sekitar wajahnya mengencang. Sorot matanya bak raja hutan yang mengunci mangsanya. Suaranya tenang, namun nadanya menyindir Arka
"Kak, memang kamu saja yang ingin pulang. Aku juga punya keluarga. Lagian kamu laki-laki ibu kan tanggung jawab kamu, bukan kami "
Mata arka melotot tajam, seperti anak panah yang siap menerjang sarsannya. Saat arka ingin menjawab Laras, terdengar suara lembut yang bergetar di telinganya mereka suara seorang gadis bernama Naya Maheswari.
"Kalian... kenapa harus ribu? Wanita yang kalian panggil dia itu, ibu kita. Sesakit apa pun hati kita, ibu tetap harus kita urus. Karena..."
Belum sempat Naya selesai berbicara Laras memotongnya. Dia tersenyum miring melihat Naya. Jari-jarinya mengepal di sisi raganya. Suaranya teredam dengan amarah yang selama ini terkunci dalam hati kecilnya.
"Kamu sebaiknya diam. Anak kesayangan seperti kamu memang tahu apa?"
"Kak..." Ucap Naya, namun dia bingung harus berkata apa.
Sedangkan wanita yang menjadi perdebatan mereka pandangannya sedikit kabur. Dia melihat seorang laki-laki berdiri di hadapannya membawa sebuah kotak. Perlahan kotak itu terbuka sebuah cincin dengan permata kecil berkilau di dalamnya. Suara beratnya menyapa pendengar wanita itu
"Ratna Saraswati, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku. Menemaniku hingga akhir hidupku."
Ratna hanya tersenyum manis, jari manisnya terulur ke arah laki-laki itu. Sebuah kristal bening jatuh membasahi kulitnya. Bersama dengan itu detak jantungnya berhenti berjalan. Dunia sekitarnya hening. Setiap kenangan berputar di kepalanya. Satu kata samar di tengah perdebatan anak-anaknya tak sampai menyentuh masa lalu mereka.
Sementara Naya yang melihat jari ibunya terangkat seolah menunjuk ke arah mereka. Tiba-tiba matanya membelalak. Napasnya berat, seakan-akan seluruh oksigen di sekitarnya telah habis. Tumitnya berlari menuju Ratna, saat tangan Ratna jatuh di atas kaki tuanya.
Arka dan Laras yang baru menyadari perubahan mimik Naya, refleks menengok pada Ratna yang sedang tersenyum dengan samar. Mereka melihat jejak cairan bening. Jantung mereka berhenti berdetak sejenak. Seluruh rona dalam badan mereka menghilang seketika. Mereka menjadi diam, seperti patung yang terpatri di atas lumpur kepahitan.
Suara teriakan mengganggu di udara malam yang dingin. Menggores setiap sanubari yang berselimut kabut kekecewaan memudar. Seiring dengan jeritan pilu Naya yang memanggil wanita tertinggi dalam hidupnya
"IBU... BUKA MATAMU. TOLONG BANGUN, LIHAT NAYA, BU..."
Telinga Arka mendengung, seketika perkataan yang menyakiti hati ibunya menari-nari dengan bebas di pikirannya. Setiap langkah yang dia tapaki menuju ibu, seperti menginjak duri, menusuk setiap tulang-tulangnya.
'Ibu egois, setiap permintaanku selalu nanti-nanti, sedangkan Naya langsung ibu turuti. Sebenarnya aku anak kandung ibu, bukan.
Dasar wanita tua. Dulu saat aku kecil kamu lebih menyayangi Naya, tapi lihat sekarang saat tua kamu malah ingin aku mengurusmu.
Aku bukan anakmu... dan kamu bukan ibuku. Mulai saat ini hubungan kita putus.'
Sedangkan, Laras kakinya lemas. Perlahan dia terjatuh di lantai yang dingin. Pandangannya kosong. Mulutnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Batinnya berteriak, memaki ibunya.
'Wanita tidak tahu diri. Wanita hina. Wanita kurang ajar. BANGUN, JANGAN BERPURA-PURA LAGI. AKU MUAK DENGAN TINGKAHMU ITU.'
Suasana di ruangan itu penuh dengan luka lama dan baru. Semua orang terjebak dalam pikirannya masing-masing. Hingga, sebuah benda pipih jatuh di bawah kaki Naya. Benda itu adalah sebuah alat perekam suara.
Naya memandnagi benda itu cukup lama, jemarinya terulur meraih benda panjang berwarna hitam itu. Ada sebuah tombol merah yang tertekan saat mengambilnya. Lalu, sebuah suara lemah yang familiar di telinga.mereka mengalun di keheningan ruangan.
"Hem, apakah ini sudah merekam."
Seketika kesadaran semua orang melirik pada raga yang perlahan kehilangan kehangatannya.
"Hai, apa kabar putraku Arka Mahendra? Ibu senang kamu sudah tumbuh dengan sehat, kuat dan tangguh. Terima kasih, sudah hadir dalam hidup ibu. Mengajarkan ibu bagaimana menjadi seorang ibu. Mau melangkah bersama ibu, walau ibu memberimu luka yang sangat amat dalam..."
Pupil mata Arka bergetar. Napasnya tercekat. Tenggorokannya terasa sakit.
"Maaf, ibu sadar kata maaf tidak bisa mengobati luka yang aku berikan kepada dirimu. Ibu tidak akan membela diri atas semua masa lalu yang terjadi, karena ibu tahu ibu banyak salah padamu. Tapi yang perlu kamu ketahui, ibu tidak pernah membencimu. Ibu sangat mencintaimu. Kamu adalah cahaya pertama ibu di dunia yang tak baik ini."
Setiap kata mendobrak relung jiwa Arka. Bahunya bergetar. Satu tetes air mata jatuh membasahi paras pucatnya.
"Laras... wanita kuat ibu..."
Saat itu, hati Laras seperti di siram air garam, terasa perih. Sampai cairan bening itu lewat pelupuk matanya tanpa izin.
"Putri pertama ibu. Ibu sangat senang kamu telah menemukan pendamping yang baik. Ibu meminta pada Yang Kuasa supaya kehidupanmu penuh dengan kebahagiaan dan perhatian. Maaf...
Laras menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat kalimat ibunya mengisi udara. Seluruh raganya bergetar. Matanya terpejam. Hawa dingin menghujam kulitnya.
"Ibu bukan ibu yang baik untukmu. Ibu punya tiga anak, tapi ibu lebih sering mengabaikan dirimu. Ibu tahu kamu pasti terluka akan sikap ibu. Ibu pikir di antara anak ibu kamu lah yang paling kuat. Karena, ibu tak pernah melihatmu mengeluh atau menangis. Namun, ternyata ibu salah..."
Laras menggelengkan kepalanya. Dia memukul dadanya dengan keras. Dia bergumam dengan lirih.
"I... bu..."
Lalu, dia mendengarkan setiap kata yang ditujukan untuknya.
"Kamu menyimpan semua luka itu sendiri dan ibu telah menyakitimu selama bertahun-tahun, maaf...
Naya.... Putri kecilku. Maaf, karena ibu memberikanmu perhatian lebih, sehingga kakak-kakakmu menjauhimu. Ibu banyak bersalah kepadamu. Ibu tak banyak pesan padamu. Karena ibu sudah memberikan semuanya semasa hidup. Kamu satu-satunya yang tetap mengurusmu, walau luka di hatimu masih basah oleh ibu."
Naya yang mendengar pesan ibunya, hanya bisa menggenggam tangan dingin ibunya. Menundukkan. Kepalanya di atas paha ibunya. Matanya terpejam. Namun, bibirnya terus menyebut ibunya.
"Setelah kepergian ibu. Ibu berharap kalian saling menjaga dan melindungi."
Hening sejenak.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidup ibu dan maafkan ibu, ibu masih belajar menjadi ibu yang baik, sehingga ibu menyakiti kalian "
Setelah semua untaian kata yang telah selesai. Dunia mereka hancur. Apa yang mereka pikir dan rasakan berbeda dengan usaha yang sebenarnya ibu mereka lakukan. Mereka berusaha menerima masa lalu, berjalan bersama luka, dan menerima setiap kisah yang menyakitkan dalam hidup mereka.
Setiap air mata yang keluar di ruangan itu menjadi saksi akan penyesalan dan luka masa lalu. Namun, air mata Ratna adalah bentuk perwujudan dari cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Cinta yang tak pernah hilang, hanya terkubur dalam luka yang tak pernah sembuh.
🫠🫠Sad Ending ðŸ˜ðŸ˜
BalasHapus