Malaikat dari Surga

 





Malaikat dari Surga

Oleh: Leora Senja 


“Kalau kamu tetap kekeh dengan pilihanmu, maka kamu harus keluar dari rumah ini dan tidak akan menerima sepeserpun warisan dari kami!” ucap seorang pria paruh baya bernama Susanto dengan mata yang memerah menahan amarah. 


“Baik, aku akan pergi!” jawab Aldo dengan keyakinan penuh. Pria berusia 25 tahun itu bangkit menuju kamar berniat untuk mengemasi pakaiannya. 


Tak banyak yang dibawa oleh pria tampan itu, hanya beberapa pasang pakaian, sedikit uang, dan beberapa barang lainnya. Setelah selesai, iya kembali ke ruang tamu dan berpamitan kepada kedua orang tuanya. 


“Pa, Ma, aku pamit,” ucapnya sebelum melangkah menuju pintu keluar. 


“Aldo, Jangan tinggalkan Mama, Nak!” teriak Maya dengan air mata yang berderai membasahi wajah cantiknya. 


“Sudahlah, Ma, jangan tangisi anak bebal itu! Papa yakin tidak lama lagi Aldo pasti kembali. Tidak mungkin dia bisa hidup tanpa harta dari kita!” ujar Susanto dengan yakin. Ucapan pria itu masih jelas terdengar meskipun Aldo sudah hampir sampai di pintu gerbang rumah mereka. 


“Ayah, ayo kita berangkat sekarang,” ajak seorang bocah berusia tiga tahun dengan suara khas telohnya menyadarkan Aldo dari lamunan. 


“Iya, Ayah. Ayo kita ke sana sekarang. Rara dan Reno udah nggak sabar mau ketemu nenek dan kakek,” ucap bocah yang lain. 


“Kalian sudah siap?” tanya Aldo memandang dia anak kembarnya penuh cinta. 


“Sudah, Ayah,” jawab mereka dengan semangat. 


“Kamu sudah siap, Sayang?” Kali ini pria tampan itu bertanya pada Azizah, istrinya. Wanita yang telah dihalalkan oleh Aldo empat tahun yang lalu itu mengangguk dengan mantap. 


Setelah meninggalkan rumah mewah orang tuanya empat tahun yang lalu, baru kali ini Aldo mencoba kembali. Kerinduan terhadap kedua orang tuanya ia obati hanya dengan memandang mereka dari kejauhan. Bukan tak ingin menemui, pria itu hanya ingin menunjukkan pada mereka bahwa ia bisa sukses dan bahagia dengan pilihannya. 


“Kita berangkat sekarang, Mas?” tanya Azizah menggamit lengan Aldo, sedangkan Rara dan Reno sudah berlari menuju mobil mereka. Aldo mengangguk tanda setuju. Mereka pun berangkat menggunakan mobil pertama yang mereka beli satu bulan yang lalu. 


Sesampainya di rumah Susanto, Aldo turun diikuti oleh istri dan anak-anaknya. Mereka memencet bel beberapa kali sampai akhirnya ada yang membukakan pintu. 


“Mau apa kalian datang ke sini?” tanya Susanto menyambut anak dan menantunya. 


“Pa, kami ke sini—” 


“Siapa yang datang, Pa?” tanya Maya sembari melangkah mendekat pada suaminya. Awalnya ia tak ingin peduli, tetapi saat mendengar suara putranya wanita itu pun tergerak ingin tahu. 


“Bukan siapa-siapa, Ma,” jawab Susanto setengah menutup pintu menghalangi agar istrinya tak melihat sang putra. Akan tetapi insting, seorang ibu tak bisa dibohongi. Maya tetap kekeh ingin melihat siapa yang datang karena ia yakin tadi mendengar suara putranya. 


“Aldo! Astaga, Nak. Kamu apa kabar? Mama kangen banget sama kamu,” ucap Maya sembari memeluk sang putra. Air mata meleleh membasahi pipinya. 


“Alhamdulillah Aldo baik, Ma. Mama gimana kabarnya? Sehat, kan?” Aldo melepaskan pelukan mamanya. 


“Mama sehat, Nak,” jawab Maya. “Alhamdulillah? Jadi, kamu beneran masuk agama Islam, Nak?” 


Aldo mengangguk dan tersenyum. Kemudian pria itu beralih menatap Azizah. “Ma, ini Azizah, istriku.” 


Maya pun mengalihkan pandangannya pada Azizah. Wanita dengan hijab berwarna hijau daun itu pun tersenyum manis dan mengulurkan tangan menyalami Ibu mertuanya. Maya pun menyambut uluran tangan itu dengan senang hati


Berbeda dengan sang istri, Susanto malah enggan menyambut uluran tangan menantunya. 


“Aldo, ini siapa?” tanya Maya menunjuk dua bocah kecil yang sedang asik memainkan mainannya masing-masing. 


“Ma, ini Rara dan Reno, cucu Mama dan Papa,” jawab Aldo memperkenalkan anak-anaknya. 


“Salim sama Kakek dan Nenek, Nak,” perintah Azizah dengan lembut. 


Mendengar kata cucu, Susanto yang sedari tadi mengalihkan pandangan akhirnya tergerakkan hatinya. Kini, kedua cucunya tengah mengulurkan tangan padanya. Bukannya menyambut, ia malah memeluk mereka dengan erat. 


Selama ini, Azizah sering datang menemui Susanto hanya sekedar meminta maaf dan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Aldo, putra semata wayangnya. Namun, Susanto enggan hanya karena dibutakan oleh egonya. 


Ternyata, bukan Aldo atau Azizah yang berhasil membujuk pria paruh baya itu, tetapi dua malaikat kecil itu lah yang meluluhkan kerasnya hatinya. 


Bukan sebab benci Susanto menolak permintaan maaf dari Azizah. Akan tetapi, ego dan gengsi lah yang membuatnya enggan menemui mereka. Padahal selama ini, secara diam-diam, Susanto selalu mengirimkan anak buah untuk memantau dan melindungi mereka. 


Dalam keluarga, tak ada rasa benci yang mendominasi. Hanya saja, ego dan gengsi lah yang membuat hubungan dalam keluarga berantakan. Sama-sama keras kepala dan selalu memaksakan kehendaknya, membuat hubungan semakin runyam. Padahal, jika bisa saling berunding, pasti jalan keluar bisa didapatkan tanpa harus saling meninggalkan. 



*** Selesai ***



Sudut kamar, 30 September 2025

Komentar

  1. Kisah yang mengharukan. Pelajaran yang dapat diambil adalah, gengsi hanya akan menyiksa diri sendiri. Percayalah🔥

    BalasHapus
  2. 😭😭😭 kakak, ini keren 🫰🏻🫰🏻🫰🏻

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian