Menikah Tanpa Bahagia




Judul: Menikah Tanpa Bahagia

Nama: Christie Sianty 

Isi: 

Elisabeth berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya marun yang dipilih ibunya. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipulas tipis agar tampak bersinar tetapi di balik riasan itu, matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan yaitu kehilangan.

Di layar ponselnya, satu pesan belum dibuka. Dari Setiawan. “Selamat menempuh hidup baru, kembalilah kepadaku jika bersamanya kau tidak bahagia.”

Setiawan adalah cinta pertamanya. Pria Jawa yang ia temui saat SMA, saat ia menjadi panitia upacara dan Setiawan berdiri tegap sebagai komandan barisan. 

Surat-surat, pertemuan singkat saat Setiawan pulang dari tugas militer dan janji-janji kecil yang tak pernah mereka ucapkan keras-keras. Elisabeth tahu sejak awal, bahwa cinta mereka tak akan diterima.

Setiawan tak pernah membawa bunga atau hadiah mahal tetapi ia selalu tahu kapan Elisabeth butuh ditemani. Saat Elisabeth sakit, ia datang diam-diam ke rumah, menitipkan termos teh jahe lewat adik bungsunya. Saat hujan turun deras dan Elisabeth lupa membawa payung, Setiawan menunggu di gerbang dengan jaket basah dan senyum yang hangat.

Ia tak pernah memaksa, hanya hadir dan kehadirannya selalu terasa seperti pelukan yang tak perlu disentuh.

“Kita harus menjaga garis keturunan. Menikah itu bukan soal cinta tetapi soal kehormatan,” terngiang ucap Ayahnya yang masih memegang teguh adat leluhur. 

Ketika Elisabeth mulai dekat dengan Setiawan, keluarganya menjodohkannya dengan Yohanes, guru muda dari keturunan tionghoa. Dengan latar belakang suku yang sama, sopan, penghasilan yang stabil, dia dianggap sesuai dan bisa diterima.

Yohanes bukan pria jahat. Ia bukan Setiawan. Ia tidak tahu cara mendengarkan diam-diam, tidak tahu cara menyentuh tanpa menyakiti. Ia bicara dengan nada perintah, mencintai dengan cara yang kaku dan marah dengan cara yang sunyi.

Pernikahan mereka berlangsung meriah. Elisabeth tersenyum di pelaminan, menjabat tangan tamu-tamu dengan sopan dan menerima ucapan selamat yang terasa seperti luka. Di antara keramaian itu, ia sempat melihat Setiawan berdiri jauh di belakang, mengenakan batik sederhana, menatapnya tanpa senyum.

Malam itu, kamar pengantin dipenuhi aroma melati dan suara musik yang perlahan memudar. Elisabeth duduk di sisi ranjang, kebaya marunnya sudah diganti dengan daster satin pemberian ibunya. Yohanes masuk dengan langkah tenang, menutup pintu, lalu duduk di sampingnya.

Ia menyentuh tangan Elisabeth, lalu mengusap pipinya. “Kita sudah sah,” katanya pelan, seolah mengingatkan, bukan merayu.

Elisabeth hanya mengangguk. Tubuhnya diam tetapi hatinya berontak. Ia tahu apa yang akan terjadi dan ia tahu ia tak bisa menolak. Malam itu bukan tentang cinta tetapi tentang kewajiban. 

Yohanes mencium keningnya, lalu mulai membuka kancing bajunya sendiri. Elisabeth menatap langit-langit, mencoba mengalihkan pikirannya tetapi air matanya jatuh tanpa suara.

Ia tidak berkata apa-apa. Tidak menolak, tidak menyambut. Ia hanya membiarkan tubuhnya menjadi bagian dari ritual yang tak pernah ia pilih. Di dalam dirinya, ada suara yang berteriak tetapi tak pernah keluar.

Setelah semuanya selesai, Yohanes tertidur cepat, membelakangi lampu meja yang masih menyala. Elisabeth tetap terjaga, duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Ia menangis pelan, tanpa suara, takut didengar, takut dianggap tak bersyukur.

Malam pertama itu bukan awal dari cinta. Itu adalah awal dari kehilangan yang tak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Hari-hari berlalu. Elisabeth menjalankan perannya sebagai istri dengan baik. Ia memasak, membersihkan rumah, menemani Yohanes ke acara keluarga tetapi di dalam dirinya, ada ruang kosong yang tak bisa diisi.

Setiawan masih menghubungi sesekali. Pesan-pesan pendek, penuh perhatian, tanpa tuntutan. “Kamu makan cukup hari ini?”  

Elisabeth tidak membalas. “Kalau kamu lelah, istirahat. Dunia bisa menunggu.”

Yohanes mulai curiga. Ia melihat pesan-pesan itu, lalu berubah. Ia membentak karena hal kecil, diam berhari-hari dan mulai menyentuh Elisabeth bukan dengan cinta tetapi dengan kewajiban.

Elisabeth tidak pernah mengadu. Ia tahu, dalam tradisi keluarganya, seorang istri harus bertahan. Maka ia menutupi semuanya. Di depan keluarga, ia tersenyum. Di dalam kamar, ia menulis surat-surat yang tak pernah dikirim.

“Setiawan, aku tak menyesal menikah tetapi aku menyesal tak bisa memilihmu. Aku menyesal karena dunia kita terlalu sempit untuk cinta yang luas.”

Setiawan berhenti menghubungi. Mungkin karena ia tahu, bahwa cinta yang dipaksa bertahan hanya akan menjadi luka tetapi ia tidak menikah. Ia tetap sendiri, tetap menulis surat-surat yang tidak berani dikirim dan tetap menyimpan foto Elisabeth di dompetnya lusuh tetapi utuh.

Elisabeth punya dua anak. Anak-anak tumbuh sehat. Elisabeth mencintai mereka dengan seluruh hatinya. Anak-anak selalu mendapat dari kasih sayang dari Yohanes, utuh. Tidak dengan yang dirasakan Elisabeth.

Di kejauhan, seorang pria berseragam lewat di jalan depan rumah. Elisabeth menatapnya lama. Ia tahu siapa itu tetapi ia tidak beranjak.

Elisabeth hanya berkata dalam hati. “Maaf, aku tak pernah bisa jujur pada dunia tentang kamu, Setiawan, semoga kamu tahu dan bisa mengerti.”

Yohanes semakin sibuk dengan pekerjaannya. Ia pulang malam, bicara seperlunya dan menyentuh Elisabeth hanya saat ia merasa perlu. Tak ada pelukan, tak ada tanya, tak ada perhatian yang pernah ia dengar dari Yohanes. Sekadar bertanya. “Apa kamu baik-baik saja?” itu yang sering ia dengar dari Setiawan, bahkan saat pria itu berada ribuan kilometer jauhnya.

Suatu sore, saat hujan turun pelan, Elisabeth duduk di beranda rumah. Anak-anak sudah tidur, Yohanes belum pulang. Di kejauhan, seorang pria berseragam berjalan perlahan di bawah payung hitam. Ia tidak menoleh, tidak berhenti, hanya lewat seperti bayangan masa lalu.

Elisabeth tahu siapa itu. Ia tidak beranjak. Hanya menatap, lalu menutup matanya sebentar. Dalam diam, ia berkata. “Maaf, aku tak pernah bisa memilihmu tetapi kamu tahu. Setiawan, aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”

Setiawan terus berjalan, langkahnya tenang. Ia tidak pernah menikah. Tidak karena menunggu jawaban tetapi karena hatinya sudah memilih dan ia tidak pernah mengubah pilihannya.

Di dompetnya, foto Elisabeth masih tersimpan. Untuk selamanya. Seperti cinta yang tak pernah diberi ruang tetapi tetap bertahan.

Di laci meja kerjanya, tersimpan satu surat terakhir untuk Setiawan. Tulisannya rapi tetapi tak pernah dimasukkan ke amplop.  

“Jika hidup adalah pilihan, maka aku telah memilih bertahan tetapi jika cinta adalah kebenaran, maka kamu adalah satu-satunya yang tak pernah aku ragukan.”


Titimangsa: 

Bandung, 30 September 2025

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian