Nada diantara Tribun
Nada diantara Tribun
Nama : Ava Wijaya
Isi :
Suara riuh penonton memenuhi lapangan basket, tapi Alvaro justru menoleh ke arah pojok tribun. Di sana, Nayla duduk dengan tenang, menulis sesuatu di buku catatannya. Entah kenapa, setiap kali ia melihat gadis itu, kemenangan terasa bukan lagi tujuan utama.
Pertandingan telah usai, suara riuh penonton masih menggema saat ketika Alvaro berjalan keluar lapangan, Handuk biru tergantung di bahunya. Pandangannya tertuju pada seseorang yang berada di tribun, yaitu tertuju pada Nayla yang masih duduk dengan buku catatannya.
Alvaro memberanikan diri untuk mendekati Nayla yang masih duduk di tribun, “Kamu…. menulis puisi lagi?” tanyanya sambil mengusap keringat di leher.
Nayla tersentak, ia buru-buru menutup bukunya “iya.. ini hanya coretan biasa kok.”, Kamu nggak seharusnya tau”.
Alvaro tersenyum, “Sayang kalau disembunyikan, kalau puisi itu membuatku semangat saat di lapangan, kenapa tidak kamu baca”.
Nayla menatapnya “Kamu serius..?” bukannya lebih penting tepuk tangan dari mereka daripada tulisanku..”
Alvaro menggeleng pelan, “tepuk tangan dari mereka cuma berisik, Tapi kata-katamu membuatku benar-benar menang.
Nayla terdiam dan menatap bukunya sebentar tangannya gemetar saat membuka halaman terakhir “Kalau kamu benar mau mendengar” tanyanya pelan
Alvaro mengangguk, senyum tipis mengambang diwajahnya “selalu”.
Nayla mulai membacakan dengan suara bergetar, bait demi bait telah berlalu, kata-kata yang sederhana, namun setiap kalimat begitu terasa mengisi ruang di antara mereka. Alvaro mendengarkan dengan seksama seolah olah dunianya hening.
ketika Nayla menutup buku catatannya, Alvaro hanya bisa menarik nafasnya untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa nyaman didekat seseorang… yaitu nayla.
Sejak hari itu Alvaro mulai mencari-cari cara agar bisa menghampiri Nayla. Kadang ia pura-pura mencari inspirasi kata-kata motivasi untuk timnya, dan juga ia juga sering hanya duduk dan menunggu Nayla lewat.
“Kenapa kamu selalu mencari inspirasi kata motivasi ke aku” tanya Nayla dengan tersenyum heran.
Alvaro tersenyum “Karena setiap kata-kata motivasi darimu beda, Rasanya jujur lebih dari sorakan orang-orang.
Nayla terdiam dan menyembunyikan senyum kecilnya, percakapan sederhana itu, Keduanya saling berbagi cerita sampai hingga malam pun tiba. Mereka mulai terbiasa saling untuk berbagi cerita satu sama lain.
Raka mulai mendekati Nayla, Mereka pun mulai akrab namun Nayla hanya menganggap bahwa Raka hanya teman yang menyenangkan, pada saat itu Alvaro melihat mereka yang sedang bercanda bersama dengan perasaan yang hancur, Karena sahabatnya itu dekat dengan Nayla.
di lapangan, Alvaro mencoba bersikap biasa saja, tapi matanya tidak bisa berbohong, Selalu melihat kearah tribun, melihat Raka dan Nayla yang saling bercanda
“Kenapa harus dia….. sahabatku sendiri?”, gumam Alvaro, ia bingung antara perasaan cinta dan persahabatan nya itu.
Awalnya, semua terasa biasa saja. Alvaro tetap dekat dengan Nayla, dan persahabatannya dengan Raka maupun Mira berjalan seperti biasa. Namun perlahan, sikap Mira berubah,ia mulai sering mencari perhatian Alvaro, meski sadar betul siapa sahabat terdekat Nayla.
Nayla pun mulai mengetahui bahwa sahabatnya Mira suka mencari perhatian kepada Alvaro, Nayla kecewa dan memutuskan untuk menjauh dari Alvaro.
Alvaro sadar Nayla kecewa dengannya, Alvaro pun mulai mencoba untuk menunjukkan ketulusannya itu lewat tindakannya bukan hanya kata-kata.
Saat pertandingan penting, Alvaro menuliskan bait puisi Nayla di sepatunya, Dan menyebutkan nama Nayla saat diwawancarai.
Saat pertandingan itu Nayla hadir di tribun, dengan perasaan yang masih ragu dengan perasaan Alvaro ”mungkin Alvaro hanya ingin berteman baik denganku” gumamnya.
Pertandingan telah usai, Alvaro mendekati Nayla dan dengan jujur ia berkata bahwa Nayla lebih berharga dari semua tepuk tangan penonton.
Nayla pun mulai luluh.. “Apakah kamu.. serius..?” tanya Nayla sambil tersenyum.
“Ya aku serius.. apakah kamu meragukan ku?”
ucap Alvaro dengan bingung.
“oh.. tidak.. aku hanya bertanya.!”
ucap nayla dengan senyumannya
akhirnya mereka pun mulai saling mengakui perasaannya, Dibawah langit senja Alvaro memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya selama ini “Nayla aku nggak mau menyembunyikan perasaan ini lagi, sebenarnya aku suka sama kamu, sejak lama..”
Nayla terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut “Aku juga, Varo, Aku selalu menunggumu”.
Raka yang mendengarnya tersenyum tipis, “Kali ini aku kalah Var, Aku ikhlas ini demi kebahagiaan kalian” menepuk bahu sahabatnya dengan tulus.
Mira yang berdiri di sisi Nayla pun ikut tersenyum.
“Ternyata hati Alvaro memang untukmu, Nay, Dan aku… ikut bahagia melihatmu tersenyum.”
Untuk pertama kalinya, mereka berempat tidak lagi diikat oleh salah paham atau rasa cemburu. Yang tersisa hanyalah persahabatan dan ketulusan.
Titimangsa : Malang, 30 September 2025

Komentar
Posting Komentar