NADA TAK BERSAMBUT
Judul: NADA TAK BERSAMBUT
Nama: Grace Gultom
Isi:
Cuaca terik di bulan Oktober sungguh membuat badan gampang meriang. Melisa pun demikian. Di bawah tiupan AC yang membuatnya menggigil, Melisa terus menyusun laporan demi laporan ke dalam tabel data untuk diserahkan kepada Pak Hendra sebelum jam lima sore nanti. Ia sesekali menggosok kedua lengannya yang meremang, namun tuntutan pekerjaan membuatnya enggan beranjak dari kursi.
Di tengah kebisingan tuts komputer yang ditekan kuat-kuat, suara mesin fotokopi yang terus berdengung, suara telepon kantor yang berdering bergantian, dan suara percakapan para rekan kerja Melisa yang nyaring, Melisa melihat smartphone miliknya terus bergetar pelan dengan nama “Ibu Icha” tertera di layarnya.
Kebisingan itu telah membelenggu Melisa, seolah dunia luar tidak lagi penting.
Panggilan dari “Ibu Icha” hanyalah satu nada kecil yang kemudian diserap oleh deru tugas pekerjaan. Melisa tahu dia seharusnya mengangkat telpon masuk itu, namun pikirannya terlanjur tertuju pada tenggat waktu yang kian mendekat.
Karena itu lagi dan lagi Melisa mengabaikannya seolah-olah dia tidak pernah melihat ponsel itu menyala. Melisa terus sibuk dengan layar komputernya sambil sesekali menyahuti pembicaraan rekan kerja di samping mejanya—Lestari. Hingga akhirnya waktu berlalu menunjukkan tepat pukul lima sore.
Setelah meletakkan laporan yang baru saja dicetak di atas meja kerja Pak Hendra, Melisa menuruni satu per satu anak tangga menuju tempat parkir motornya sambil mencoba kembali menghubungi nomor “Ibu Icha”.
Tuttt... tutt... tutt…
“Halo? Bu, maaf, Icha nggak bisa angkat telepon Ibu tadi. Soalnya Icha lagi sibuk banget, Bu. Ibu sehat, kan? Gimana, ada perubahan nggak setelah terapi dengan Dokter Najwa? Jangan lupa makan ya, Bu, dan tolong rutin minum obatnya, ya. Ini Icha mau pulang ke kos dulu, nanti kita sambung lagi ya, Bu. I Love You, Bu. Icha sayang Ibu banyak-banyak!” seru Melisa dengan ceria meskipun badannya sudah begitu menggigil kedinginan.
Melisa menarik napas panjang, puas karena telah menuntaskan kewajibannya di kantor hari ini dan menyempatkan membalas telepon dari ibunya yang diabaikan tadi. Walaupun Melisa tidak pernah benar-benar mendengar jawabannya. Karena tidak ada balasan balik dari si penerima, yang ada hanyalah suara layanan operator yang terdengar terus berulang-ulang.
Ah, sepertinya kebisuan telah memenuhi seluruh bumi. Seakan-akan suara tidak pernah tercipta, kebisuan itu begitu pekat dan hampa. Melisa tidak lagi merasakan apa-apa, hanya gigil dingin yang tersisa di tulang-tulangnya. Lalu ponsel itu, yang seharusnya berfungsi sebagai batas antara pekerjaan dan rumah, kini menjadi batas antara hidup dan keabadian.
Kini tak lagi terdengar suara burung yang berkicau atau deru mesin kendaraan yang berlalu lalang, bahkan suara sang putra sulung Ibu Icha—Mukhlis, yang sedari tadi terus menatap wajah ibunya dengan tatapan hancur. Entahlah, mengapa semua suara itu tidak terdengar sama sekali, ya? Sama seperti nada yang tak bersambut dari balik ponsel miliknya.
“.........ICHAAAAA!!!”
Teriak kencang seorang Ibu yang baru saja kehilangan putri bungsu tercintanya karena kecelakaan maut sebulan lalu, kembali bergema dengan nyaring sekali. Mukhlis hanya mampu memegang bahu sang Ibu dengan lemah, sementara ponsel Melisa ada dalam genggamannya terus memutar layanan operator yang tersimpan. Para tetangga yang bisa mendengar jeritan pilu sang ibu hanya bisa mengelus dada mereka masing-masing, sambil terus mendoakan Melisa Andriani bahagia di surga.
Nada tak bersambut itu, ternyata bukan miliknya lagi. Itu adalah nada yang tak akan pernah bisa mencapai telinga siapapun di bumi.
Titimangsa:
Jambi, 30 September 2025
Mari menangis sejenak 🥹
BalasHapusðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ bawangnya boros banget kak, kasian mataku kak
BalasHapusMumpung masih murah kak, harga bawangnya 🥺🥺
Hapus