Pulang Paling Indah

 





Judul : Pulang Paling Indah

Nama : Siti Aisyah Al Humaira

Isi :

Hujan baru saja reda ketika Aila tiba di halaman rumah kayu sederhana itu. Aroma tanah basah menyatu dengan wangi daun pisang yang masih menyisakan titik-titik air. Aila berdiri terpaku, tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena perasaan yang sulit ia terjemahkan. Sepuluh tahun ia pergi, sepuluh tahun ia memilih merantau, berjarak, menjaga hati yang rapuh karena kisah cintanya dengan Arkan yang tak pernah direstui ayahnya.

Kini, dengan langkah berat, ia kembali.

Pintu rumah itu masih sama, cat nya memudar, engselnya berdecit, namun disanalah segala ingatan manis dan getir bermula. Aila mengetuk pelan, dan suara langkah dari dalam membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Pintu terbuka, menampakkan sosok yang dirindukan namun juga ditakuti: ayahnya. Rambut beliau sudah memutih, wajahnya penuh keriput, namun tatapan matanya masih sama tajamnya, penuh wibawa.

“Aila…” suara itu pecah, lirih, nyaris tak percaya.

Aila menunduk, mencoba menahan air mata.

“Ayah…”

Sekejap keheningan melingkupi mereka. Lalu dari belakang ayahnya, muncul ibu dengan wajah berurai air mata.

“Nak, akhirnya kau pulang juga…”

Ibu langsung meraih tubuh Aila, memeluknya seolah takut anaknya itu hilang lagi.

Aila menangis di pelukan ibunya.

“Maafkan Aila, Bu… Ayah…” suaranya bergetar, menumpahkan semua penyesalan yang selama ini ia simpan.

Ayah terdiam cukup lama, namun kemudian Aila merasakan sebuah sentuhan di kepalanya. Tangan kasar dan hangat itu, meski sempat menjauhkan, kini kembali menyentuh dengan cinta yang tak pernah benar-benar hilang.

“Kamu tetap anak Ayah. Sejauh apapun pergi, rumah ini tetap menunggumu.”

Isak tangis pecah, bukan hanya dari Aila, tapi juga dari ibunya. Momen itu seperti hujan yang mereda, memberi kesempatan pelangi untuk muncul.

Malam itu, suasana rumah berbeda dari yang pernah Aila bayangkan. Ia piker akan canggung, penuh diam, atau bahkan dingin. Nyatanya, aroma sayur asem buatan ibu dan tawa kecil yang pernah di meja makan membuat rumah itu kembali terasa hangat. Ayah duduk di kursi kepala meja, memperhatikan Aila yang kini sudah lebih dewasa.

“Bagaimana kabarmu selama ini?” tanya Ayah, nada suara lebih lembut dibanding dulu.

Aila menunduk, lalu menjawab lirih, “Baik, Yah… meski tidak sebaik disini.”

Ayah menatapnya dalam, seolah mencari kejujuran dibalik kata-kata itu. Aila tahu, ayahnya ingin memastikan bahwa ia sungguh-sungguh kembali, bukan hanya singgah.

Kemduian, suara motor berhenti di halaman. Pintu terbuka, dan masuklah seorang yang selama ini Aila rindukan lebih dari siapapun, Arkan. Lelaki itu tampak lebih dewasa, wajahnya teduh, dan senyum hangatnya masih sama seperti dulu.

“Assalamu`alaikum,” sapanya sopan.

Ayah mengangkat wajah, dan suasana mendadak hening. Aila tercekat, tidak menyangka Arkan akan datang mala mini.

“Wa`alaikumussalaam,” jawab Ibu cepat, mencoba mencairkan suasana.

Arkan melangkah masuk, menatap Aila sebentar dengan sorot penuh rindu, lalu beralih menunduk hormat pada ayahnya.

“Pak, Bu, saya datang kesini karena saya ingin meminta maaf atas segala sikap saya di masa lalu.”

Ayah terdiam, wajahnya sulit ditebak. Aila menahan napas, takut luka lama kembali menganga. Namun, kemudian ayah meletakkan sendoknya, menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada berat.

“Arkan, dulu Ayah marah bukan karena benci. Ayah hanya takut kehilangan anak Ayah, takut ia memilih jalan yang salah. Tapi kalau kau datang sekarang, masih tetap ingin memperjuangkan, itu tandanya kau sungguh-sungguh.”

Aila terisak pelan. Ia tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut ayahnya. Arkan menunduk, matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih, Pak. Saya tidak pernah berhenti mencintai Aila, dan saya berjanji akan menjaganya lebih baik dari diri saya sendiri.”

Ayah menatap mereka berdua, lalu berdiri. Perlahan, ia mendekat, menepuk bahu Arkan, dan berkata, “Kalau begitu, jaga dia. Jangan sia-siakan kesemoatan kedua ini.”

Seolah beban bertahun-tahun runtuh, Aila menutup wajah dengan kedua tangannya menangis haru. Ibu segera meraih bahunya, memeluknya erat, sementara Arkan menatapnya penuh cinta.

Beberapa hari kemudian, suasana di rumah itu kembali dipenuhi tawa. Ayah duduk santai di beranda, mengupas mangga, sementara Ibu sibuk menyiapkan kue kesukaan Aila. Dari kejauhan, terdengar suara ceria anak-anak kecil, keponakan Aila berlarian dan tertawa, mengisi halaman rumah dengan keceriaan.

Aila duduk di samping ayahnya, matanya berkaca-kaca saat memandang suasana di sekeliling.

“Yah… kenapa Ayah akhirnya mau menerima kami?” tanyanya dengan suara pelan.

Ayah tersenyum tipis, lalu menatap langit yang mulai berwarna senja.

“Karena Ayah belajar, Nak. Terkadang, cinta itu tidak selalu bisa dipahami dengan logika. Cinta kalian adalah takdir, dan Ayah tidak ingin menjadi penghalang bagi kebahagiaan anaknya.”

Aila menunduk, menggenggam tangan ayahnya dengan erat.

“Terima kasih, Yah…”

Tiba-tiba, Arkan muncul dengan sekeranjang rambutan, wajahnya berseri-seri.

“Pak, Bu, ayo kita makan bareng lagi. Saya juga bawa sesuatu dari rumah orang tua saya.”

Ibu menyambutnya dengan penuh semangat, sementara Ayah hanya mengangguk, meski sudut bibirnya melengkung sedikit senyum yang jarang terlihat.

Aila menatap Arkan, lalu beralih ke keluarganya. Di momen itu, ia merasakan semua luka, penantian, dan perjuangan yang telah dilaluinya akhirnya terbayar. Ia kembali bukan hanya untuk cinta pada Arkan, tetapi juga untuk cinta pada keluarganya.

Rumah itu kini bukan lagi tempat yang penuh luka, melainkan pelukan hangat yang menyatukan.

Malam terakhir sebelum mereka kembali ke kota, Aila duduk di teras rumah bersama Arkan. Bulan menggantung indah, cahaya putihnya menimpa wajah mereka yang saling berdekatan.

“Aku tak pernah menyangka Ayah akan berubah secepat itu,” bisik Aila. Arkan meraih tangannya, menggenggam erat.

“Karena cinta, Aila. Kadang cinta membuat orang yang keras sekalipun luluh. Bukan hanya cinta kita, tapi cinta keluarga. Itu yang membuat segalanya mungkin.”

Air mata Aila kembali jatuh, namun kali ini bukan air mata luka, melainkan bahagia. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, membiarkan kehangatan malam menutup segala kisah lama yang penuh getir.

Di dadanya, ia tahu, pulang kali ini adalah pulang paling indah dalam hidupnya.

Titimangsa: Depok, 30 September 2025

Komentar

  1. Keren ceritanya kak, ikt terhanyut😭

    Seandainya 🫠🫠🫠🫠

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian