Saudara Kembar yang Terpisah



Judul: *Saudara Kembar yang Terpisah*

Nama: bagus aprilianto

Isi : Sebuah hampa, seperti ukiran es yang perlahan meleleh di bawah terik Jakarta, selalu menemaniku. Aku, Maya, seorang pematung es di sudut pinggiran kota yang sederhana, akrab dengan sunyi. Tanganku terampil membentuk wujud beku, namun, jiwaku seringkali terasa kosong, seolah ada bagian diriku yang hilang, tak pernah terungkap, Rumah kecil yang kutempati bersama Ibu terasa dingin, bukan karena ukiran esku, melainkan karena bisu yang menyelimuti rahasia. Aku hidup, bekerja keras, namun, rasa ‘kurang’ itu tak pernah sirna. Di sisi lain kota yang makmur, mungkin ada jiwa lain yang merasakan serupa, dalam kemewahan yang tak dapat kubayangkan, mencari arti yang sama. Kami berdua, dua individu di dua dunia berbeda, yakin diri kami anak tunggal, namun, sama-sama dihantui oleh kehampaan yang tak terucapkan.


Momen itu tiba, mengubah segalanya. Sebuah pameran seni kontemporer, di mana patung es karyaku, seorang wanita yang merangkul kehampaan, dipajang. Aku berdiri di antara para pengunjung, mengamati, saat seorang wanita mendekat. Gerakannya anggun, tatapannya tajam menembus patungku, seolah ia membaca setiap lapis es dan maknanya. Kemudian, matanya beralih padaku. 

Seketika, duniaku runtuh dan terbentuk kembali. Di hadapanku, berdiri sosok yang persis seperti cermin, bukan pantulan, melainkan kembaran hidup. Rambut gelap, sorot mata yang sama, bahkan bekas luka samar di pergelangan tangan kiri yang identik. Ia adalah Laras, sang manajer galeri, yang juga tampak terpaku dalam keterkejutan serupa.


“Tanggal lahir kita sama,” bisikku, suaraku tercekat, saat kami bertukar cerita singkat.

Ia mengangguk, napasnya tertahan. “Dan suaramu… seperti gema dari diriku sendiri.”

Sebuah kesadaran membombardir kami berdua: kami adalah saudara kembar yang terpisah. Kebahagiaan meledak, namun, segera disusul kebingungan dan pertanyaan yang bergemuruh.


Sepulang dari galeri, hatiku berkecamuk. Kebahagiaan menemukan separuh jiwaku dengan cepat berganti amarah. Aku merasa dikhianati, dipermainkan oleh takdir dan terutama oleh Ibuku.


“Bu, siapa dia?” tanyaku malam itu, suaraku bergetar, menunjukkan fotoku dan Laras. “Kenapa aku tidak pernah tahu?”

Ibu menunduk, bahunya bergetar. “Maya”

“Maya apa, Bu? Aku berhak tahu!” Air mataku tumpah, bercampur rasa sakit hati. “Selama ini Ibu menyembunyikan kebenaran dariku!”


Laras pun menghadapi badai emosinya sendiri. Identitasnya yang mapan di keluarga adopsi kini terasa rapuh, seolah hidupnya adalah sebuah ilusi yang sempurna namun, kosong. Rasa tidak pada tempatnya yang ia rasakan selama ini menemukan validasinya. Bersama, kami memutuskan untuk menelusuri jejak masa lalu yang penuh bisikan, yang membawa kami ke pinggiran kota lain, ke rumah seorang bibi sepuh yang mungkin menyimpan kunci jawaban. Kami menaiki angkutan umum, melintasi Jakarta, dari kemewahan ke kesederhanaan, menuju kebenaran.


Rumah bibi itu sunyi, aroma melati kering menyambut kami. Di sana, di antara perabot usang dan kenangan berdebu, sang bibi menatap kami dengan mata sayu, sarat penyesalan. Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya adalah belati yang menusuk. Ia bercerita tentang Ibu kami, seorang wanita miskin dan sakit-sakitan yang harus membuat pilihan paling tragis dalam hidupnya.


“Kalian lahir prematur,” bibi memulai, suaranya parau, “Maya sakit parah waktu itu. Ibu kalian, ia tidak punya apa-apa. Ada keluarga kaya yang bersedia mengadopsi satu anak, dengan imbalan biaya pengobatan untuk yang lain.”

Napas kami tercekat.

“Ibu kalian menyerahkan Laras, agar Maya bisa selamat.”

Air mata bibi mengalir deras. “Ia memilih menyelamatkan satu dari kalian, lalu hidup dalam penyesalan seumur hidupnya, mengubur rahasia itu demi melindungi kalian berdua.”


Kebenaran itu melukai, menusuk jauh ke dalam sanubari, namun, pada saat bersamaan, entah mengapa ia juga membebaskan. Amarahku berangsur pudar, berganti rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. Aku memeluk Ibu malam itu, meminta maaf dan memaafkan, memahami pengorbanannya sebagai cinta yang tak terhingga. Laras, di sisi lain, menerima kenyataan bahwa kehidupannya yang beruntung adalah hasil dari pengorbanan yang pahit, sebuah takdir, bukan kesalahan. Kami berdua, dengan luka yang masih menganga namun hati yang perlahan menyembuh, secara sadar memilih untuk tidak membiarkan masa lalu kembali memisahkan. Kami menemukan kedamaian, bukan dalam kesempurnaan, melainkan dalam penerimaan bahwa kami adalah satu kesatuan yang utuh, yang sebelumnya tak lengkap.


Kami menapaki perjalanan baru, sebuah ikatan saudari yang baru ditemukan, dengan pemahaman bahwa darah dan takdir akan selalu menyatukan kami. Kami adalah cermin yang saling melengkapi, saling memantulkan kekuatan dan kelemahan. Namun, di antara semua yang telah terungkap, satu pertanyaan masih menggantung di udara, mendesak untuk dijawab di setiap napas kami yang kini bersatu: bagaimana kami akan mengukir masa depan kami, sebagai dua jiwa yang kini utuh, setelah kepingan takdir akhirnya bersatu dalam harmoni yang baru ditemukan?





Titimangsa: pekalongan, 30 September 2025

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian