Secangkir Berani
Judul: Secangkir Berani
Nama: putri aisyah zahra
Isi:
Aku tak menyangka, warung kopi kecil di pojok jalan itu justru menjadi tempat aku belajar arti keberanian.
Namaku Arum, 27 tahun, karyawan swasta dengan rutinitas yang nyaris membosankan, Setiap sore aku mampir ke sana, sekadar meneguk kopi tubruk sebelum pulang. Hingga suatu hari, seorang barista baru muncul. Wajahnya segar, senyumnya terang, dan jelas lebih muda dariku.
“Mb kakak suka manis, atau agak pahit?” tanya nya waktu pertama kali.
Aku sempat terdiam. Bukan karena pertanyaan, melainkan karena tatapannya, hangat, berani.
Namanya Dio, baru 20 tahun. Awalnya aku mengira ia hanya ramah ke semua pelanggan. Tapi seiring hari-hari berjalan, ia mulai mengingat detail kecil: gula setengah sendok, aku lebih suka kursi dekat jendela, bahkan kebiasaanku membaca novel sebelum kopi habis.
“Kenapa selalu sendirian?” tanyanya suatu sore.
Aku terkekeh. “Karena belum ada yang berani duduk di sini.”
Dia menaruh cangkir di mejaku, lalu duduk tanpa izin. “Sekarang sudah ada.”
Degup jantungku kacau. Ada sesuatu yang berbeda dari caranya menatapku, bukan sekadar ramah, melainkan tulus. Brondong yang biasanya kuanggap main-main, justru hadir dengan ketegasan yang membuatku kalah langkah.
Malam itu, sebelum aku pergi, Dio menyelipkan secarik kertas di bawah cangkir. Tulisan tangannya sederhana:
“Umur memang beda, tapi rasa ini nyata. Boleh aku terus duduk di sini, menemani kakak?”
Aku tersenyum, menatap kembali kursi yang tak lagi kosong. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sendirian. Mungkin, cinta memang berani datang lewat secangkir kopi, dan seorang brondong yang tak pernah takut mengungkapkan hati.
Titimangsa: bogor, 30 September 2025

ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ cinlok di cafe 😅😅
BalasHapus