Sempurna, Tapi Tidak Sempurna

 



Judul: Sempurna, Tapi Tidak Sempurna

Nama: Allya Almahira

Isi: 


“Apa kurangku, Mas? Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, tapi ternyata ini perlakuanmu padaku?” Aku terisak di hadapan Mas Amar yang sedang berdiam diri di ruang kamar kami. 


Air mataku tak berhenti mengalir memandang laki-laki yang selama sepuluh tahun menjadi suamiku ini tega berkhianat. 


“Apa selama ini aku tidak menjadi istri yang baik untukmu, Mas? Atau malah kamu mulai bosan denganku?” 


Berbagai macam pertanyaan kulontarkan untuknya, tak menjawab laki-laki yang selalu berpenampilan rapi itu terdiam menunduk. 


“Jawab, Mas Amar, jawab! Kenapa kamu diam saja? Apa kamu sudah tidak menganggapku lagi di sini?” tambahku dengan nada sedikit keras, meski dengan suara bergetar. 


Kali ini suaraku berhasil mendongakkan wajah Mas Amar, dia menatapku dengan tatapan tajam yang tak bisa kuartikan. 


“Coba pikirkan, Cindy. Sepuluh tahun kita menikah, apa kamu sudah berhasil memberikan keturunan untukku? Belum, kan? Jadi apa aku salah jika aku mencoba mencari apa yang aku inginkan itu pada wanita lain?”


Deg!

Aku tersentak mendengar alasan Mas Amar, kali ini ucapannya benar-benar membuatku terluka. Ya, memang benar, aku adalah istri yang tak dapat memberikan keturunan untuk suamiku. 


“Aku merindukan seorang anak, Cindy, hidupku sepi tanpa adanya anak, sementara kamu tak bisa memberikan itu.”


Aku terdiam kaku, rasa tubuhku seolah tak berdaya. Bukan hanya hati yang hancur, tapi juga jiwaku yang terpukul. Jika memang itu alasannya, kenapa tidak berkata jujur padaku? Kenapa harus berkhianat dan menutupi semuanya? 


Setelah saat itu, hubungan rumah tangga kami tak baik-baik saja. Aku tetap menjalankan tugasku sebagai seorang istri, Mas Amar pun begitu, tapi rasanya seolah hambar. Hatiku masih belum bisa menerima pengkhianatannya, meski alasannya memang tepat bagiku. 


Wajar saja Mas Amar berbuat demikian, karena memang aku bukanlah istri yang sempurna. Rumah ini, sudah sepuluh tahun terasa sepi, tanpa adanya canda dan tawa seorang anak kecil, bagaimana hati Mas Amar tak bersedih? 


Pagi ini, aku menyiapkan sarapan untuk Mas Amar yang hendak pergi bekerja. Kusodorkan sepiring nasi goreng telor ceplok favoritnya, tak lupa segelas susu juga menemani pagi ini. 


Setelah aku mengumpulkan tenaga, merancang dan menyusun kata-kata, aku berniat menyampaikannya saat ini juga. Perlahan aku duduk di kursi sebelah Mas Amar. 


“Mas, aku mau bicara,” ucapku pelan. 


Tanpa memandang Mas Amar mengangguk. “Bicaralah!”

“Aku mau tanya tentang hubungan kita selanjutnya, Mas,” ucapku memperhatikan laki-laki berkemeja garis putih dan celana slim fit itu fokus makan. Bahkan ia seolah tak menganggap aku sedang bicara. 

“Jadi apa maumu?” tanyanya masih dengan mengunyah. 

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan diri sebelum apa yang ingin kuucapkan terucapkan. Rasanya keputusan ini sudah bulat, aku tak ingin hidup dalam kesedihan. Mungkin ini adalah jalan terbaiknya. 

“Aku mau ...."
 
Mas Amar yang semula sibuk dengan makanannya, kini menoleh, memperhatikan wajahku yang tak berekspresi lagi. 

"Aku mau ... aku mau kita cerai, Mas.”

**

“Hah?”

“Aaaaaa–” 

Seketika aku berteriak dan tersentak dari tidurku. 

“Apa maksudmu, Sayang? Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu?” tanya Mas Amar dengan raut wajah bingung. Kecemasan terlihat jelas di wajah maskulin itu. 

“Emang aku tadi bicara apa, Mas?” tanyaku masih dengan napas tersengal, rasa lelah seolah melanda. 
Aku mengingat mimpi yang baru saja kulalui, tapi aku tak ingat kalimat apa yang kuucapkan barusan. 

“Kamu bilang, ‘aku mau kita cerai, Mas’ begitu.”

Aku terbelalak mendengarnya. Napasku seolah tercekat. 

“Minum dulu,” ucap Mas Amar memberikan segelas air putih untukku. 

Aku menenggaknya hingga tandas, setelahnya aku melirik jarum jam yang menunjukkan pukul 02.30 dini hari. 

“Kamu kenapa, Cindy? Mimpi buruk?” Mas Amar bertanya dengan tatapan sendu. 

Aku mengangguk, “Iya, Mas, aku mimpi kamu selingkuh,” jawabku pelan. 

Tak berkata apa pun Mas Amar perlahan meraih tubuhku dan membawa dalam dekapannya. 

“Tenang, Sayang, itu tidak akan terjadi. Apa pun alasannya kita akan selalu menjadi kita,” ucapnya membelai lembut bahuku. 

Aku memejamkan mata, seketika merasa beruntung karena apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi. 
“Tapi, Mas, mimpi itu seperti nyata, kamu selingkuh karena kecewa padaku yang tak bisa memberimu keturunan.”

“Cindy, itu hanya kekhawatiranmu yang mendalam, hingga terbawa dalam mimpi. Yakinlah, mimpimu tidak akan pernah menjadi nyata. Sudah ya, tetap tenang. Ada aku di sini.”

Bahagia, aku memeluk tubuh kekar itu dengan bahagia, beruntung mempunyai suami seperti Mas Amar, meski aku bukanlah istri yang sempurna, tapi dia selalu membuatku merasa sempurna. 

TAMAT

Titimangsa: Lampung, 30 September 2025

Komentar

  1. Ih kakak, aku kira seriusan weh, nyatanya hanya mimpi 😭😭😭😭

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian