Menunggu Sang Purnama
*Menunggu Sang Purnama*
Cindy Andika Fiona
“Manajemen waktu sangat dibutuhkan agar hidup memiliki skala prioritas yang terselesaikan dengan baik di mana seseorang akan patuh terhadap deadline yang diberlakukan perharinya,” terang Ayu.
Ayu adalah salah satu teman sekelasku di bangku kuliah di Universitas Indonesia. Dia seorang wanita cerdas dan kritis. Pemikirannya brilian dan sering melontarkan opini-opini yang argumentatif. Aku sering melihatnya dari jauh. Ia selalu duduk paling depan bahkan seperti menantang dosen dengan binar tatapannya yang tajam. Sementara aku hanya seorang mahasiswa biasa yang suka cari aman di mana duduk paling belakang dan lebih banyak mengambil peran dalam menyimak apa yang dikatakan teman-teman lainnya. Tapi satu hal yang aku tidak mampu pungkiri, aku mengagumi dan menyukai Ayu. Apakah bisa aku yang biasa ini mendapatkan hati dia?
Suatu ketika dia sedang melamun duduk sendiri di salah satu lesehan dekat gedung perpustakaan. Matanya teduh memandangi danau yang tenang tak beriak. Aku beberapa kali ragu, apakah akan menyapa atau pergi saja? Beberapa kali langkahku maju mundur hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk maju dan duduk di sampingnya. Aku juga membawa es krim sebagai buah tangan agar tidak kosong ketika mengajaknya berbicara.
“Es krim,” kataku sambil menyodorkan es krim rasa strawberry ke hadapannya.
Seketika senyumnya merekah dan menyambut es krim dari tanganku lalu mulai mendekatkan ke mulutnya. “Tau dari mana aku suka es krim strawberry?”
“Jelas tau dong, kan aku suka memperhatikanmu dari jauh. Eh….” Aku baru sadar kalau ternyata aku keceplosan. Aku lihat dia mengernyitkan dahi dan membelalakan mata tanda kaget. Lalu seketika dia terlihat tersipu malu.
Semenjak saat itu, aku dan Ayu mulai dekat dan semakin dekat.
***
“Mas, kamu suka tipikal cewek yang kayak apa sih?” tanya Ayu seketika.
“Cewek yang mau di rumah aja, bisa masak, sayang keluarga, tapi cerdas,” jawabku seketika. Aku lihat air mukanya tiba-tiba berubah. Tiba-tiba Ayu pergi meninggalkan percakapan kami yang menggantung. Dan hari-hari berikutnya, dia mulai berubah sikap. Aku bertanya dalam hati, apa yang salah dengan perkataanku terakhir ya? Aku tidak bisa diam saja, aku harus cari tahu kebenarannya.
***
“Ay … Ay … tunggu!” Aku coba meraih tangannya untuk menghentikan langkahnya. Dia tampak menghindar dan mempercepat langkahnya meninggalkan aku. Aku tak menyerah begitu saja. Aku langsung menahan tangannya dan dia pun membalikan badan dan kami bertubrukan dalam pelukan. Seketika dia menangis tersedu-sedu dan semakin membuatku bingung.
“Kamu kenapa sih Ay begini? Aku salah apa?” tanyaku padanya dengan lembut.
“Aku keterima beasiswa di Waseda University di Jepang. Kamu emang gak paham dari gelagatku? Aku suka kamu, tapi aku gak masuk kriteriamu. Lebih baik kita menjauh perlahan,” katanya sambil menenangkan diri.
“Tidak perlu ada yang menjauh. Kriteria itu kan fleksibel. Yang penting kamu mau sama aku. Habis wisuda nanti kita nikah dulu ya. Biar hubungan kita terikat dulu dan supaya kamu percaya kalau aku nggak akan melepaskan kamu.”
***
Momentum wisuda ketika kami pakai toga, aku melamarnya di bawah gedung rektorat bergambarkan makara Universitas Indonesia. Di kala itu Ayu memakai kebaya berwarna pink dan aku memakai batik berwarna biru. Aku berlutut bersimpuh di hadapannya dan bertanya padanya, “Maukah kamu menikahiku?” Ayu pun mengangguk tanda setuju.
Setelah selesai lamaran ketika wisuda, kami mempersiapkan keperluan pendidikan Ayu untuk lanjut ke Jepang. Kami juga memutuskan untuk menikah di Masjid Meguro yang ada di Tokyo, Jepang. Aku akan menemani Ayu untuk menggapai langkahnya dalam mencapai impiannya menjadi seorang diplomat. Sementara aku akan kerja full time untuk memenuhi segala kebutuhan kami.
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Wulandari binti bapak Suherman dengan maskawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas dibayar tunai.”
Saksi dan para tamu berkata, “Sah.” Kami pun diselimuti rasa syukur dan penuh dengan haru biru. Pernikahan kami hanya dihadiri oleh beberapa kolega keluarga intim. Kami mengenakan pakaian serba putih dan kebetulan musim di Jepang sedang awal musim semi. Banyak pohon sakura bersemi seolah sedang menyambut kebahagiaan kami.
***
Lima tahun berlalu
Kami masih memutuskan untuk menetap di Jepang setelah tiga tahun lalu Ayu sudah berhasil lulus dari gelar sarjananya. Impiannya tercapai. Namun, hubungan kami tak berjalan mulus. Kami sangat merindukan buah hati. Bahkan Ayu kerap menangis dan menyalahkan dirinya sendiri dengan diagnosis kalau dirinya itu mandul dan selalu minta maaf kepadaku. Aku memeluknya erat. Mungkin Tuhan belum mempercayai amanah tanggung jawab menjadi orang tua kepada kami.
“Mas, boleh aku meminta satu hal?”
“Apa itu sayang? Katakanlah,” ucapku sambil mengelus kepalanya.
“Aku pengen ke Baitullah dan mengadu kepada Allah atas permintaan terbesarku untuk segera memiliki momongan,” ungkapnya dengan binar mata berkaca-kaca.
“Kalau kamu mau ke rumah Allah niatkanlah yang benar untuk beribadah. Baru aku setuju.”
“Maaf Mas jika alasanku membuat presepsi keliru,” tegasnya sambil memeluk.
Aku pun mencium keningnya dan mengangguk tanda setuju. Kami pun langsung mempersiapkan segala kebutuhan untuk mencapai tujuan tersebut.
***
“Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.” Kami pun berdoa sembari tawaf dan sa’i mengelilingi kabah. Aku lihat beberapa kali ke wajah Ayu dia khusyuk berdoa sambil menitikkan air mata. Aku tahu betapa inginnya dia memiliki buah hati.
Namun, ketika sedang berlarian kecil di antara bukit Safa dan Marwah, Ayu mendadak limbung dan pingsan. Baru pertama kali ini aku lihat kondisinya selemah ini. Aku langsung menggendongnya dalam pelukan dan segera membawanya ke tenaga medis terdekat. Kami dirujuk untuk diperiksa lebih lanjut ke rumah sakit.
“Ada apa dengan istri saya, dok?” tanyaku pada dokter yang memeriksa Ayu.
Dokter itu hanya tersenyum penuh arti. “Selamat ya, Pak,” ucapnya kepadaku.
Aku mengernyitkan dahi tanda bingung. Apa maksud sang dokter? “Selamat untuk apa?” tanyaku kembali padanya.
“Selamat, istri bapak hamil.” Kami pun langsung nangis berpelukan. Aku pun sujud syukur kepada Allah. Akhirnya penantian kami terjawab sudah di Baitullah. Di bawah sang rembulan pada malam hari di Mekkah, kabar bahagia itu datang. Akan kami jaga dengan baik amanah titipan Tuhan kepada kami sebagai orang tua.
Kota Hujan, 3 Oktober 2025

Komentar
Posting Komentar