Merengkuh Kasih Idulfitri




Merengkuh Kasih Idulfitri

Karya: Apri Kuncoro


Ramadan telah sampai di penghujung. Para warga sekitar mulai bersiap menyambut Idulfitri. Tetangga sekitar rumahku ada yang membersihkan halaman, menghias rumah, dan membuat kue. Pagi itu ibu termenung diteras. Aku segera menghampirinya. "Ada apa bu? " tanyaku sambil memegang pundak ibu. "Semua orang terlihat bahagia di sini, terangga-tetangga kita sangat antusias menyambut Idulfitri tinggal 2 hari lagi. Bapak juga sedang memasak lontong untuk dimakan bersama soto ayam. 

Ibu menghela napas " Ibu hanya merasa gelisah dan memikirkan kakak sulungmu, Mas Slamet nak. Sudah dia tahun dia sekeluarga tidak mudik karena pandemi corona, Padahal sekarang pandemi sudah usai. " Ibu bergegas menuju dapur. Aku di teras memutuskan untuk menelpon Mas Slamet. 


"Hallo Mas! "

"Iya ada apa Apri, adik bungsuku sayang tumben kamu telepon mas duluan ! "



"Tadi ibu cerita kalau mas enggak mudik lagi tahun ini, apa itu serius? "

"Mas sekeluarga tahun ini bakal mudik ke Gombong kok. Mas kemarin ngomong gitu mau kasih kejutan aja buat bapak sama ibu. Kamu jangan bocor ya! " Aku mengangguk dan menutup telepon. Aku bergegas ke dapur, ibu masih saja duduk termenung sambil memasukkan beras dalam daun pisang. Bapak sibuk menyiapkan tungku perebusan. Aku berusaha menenangkan perasaan ibu dan membantu bapak menyiapkan bumbu soto dan opor.


Azan Magrib berkumandang kami berbuka puasa bersama. Tak lama terdengar suara klakson mobil ternyata kakak keduaku Mas Hari datang sekeluarga dengan membawa bingkisan untuk dihidangkan di ruang tamu saat lebaran nanti. Setelah berbuka puasa kami menunaikan tarawih di Musala terdekat. Sepulang tarawih aku bersama ketiga putri Mas Hari bermain kembang api sampai pukul 22.00 WIB


Saat sahur Ibu tiba-tiba berceloteh. "Coba saja Slamet, Rum, dan Putra ada di sini. Pasti kebahagiaan ibu akan semakin lengkap lagi. Bapak menenangkan ibu, kemudian Mbak Annas (istri Mas Hari) mengajak ibu bersama ketiga putrinya ( Zulfah, Zhafira, Zivana) menunaikan salat subuh berjamaah. Aku bapak dan Mas Hari berjamaah di musala. 


Mentari pagi bersinar sendu, sinarnya tak terlalu panas, udara terasa lebih sejuk. "Ayo Pak Bu kalau mau ziarah ke makam kakek nenek biar Hari antar pakai mobil. " tawar Mas Hari. Tanpa pikir panjang ibu langsung mengiyakan. Kami sekeluarga berangkat menuju makam. Setibanya di makam kami sekeluarga langsung membersihkan makam kakek dan nenek serta sanak saudara yang telah berpulang. Kemudian kami berdoa bersama dengan khidmat. Suasana pemakaman sangat ramai karena banyak warga berziarah.  


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB kami pulang. Sesampainya di rumah kami begitu terkejut melihat pintu rumah sudah terbuka. Sebelum masuk rumah kami mencuci tangan dan kaki di keran sampai rumah. Kami langsung masuk ke rumah, betapa senangnya ibu dan bapak melihat Mas Slamet Mbak Rum dan anak laki-laki semata wayang bernama Putra sudah sampai di rumah. Kami saling berpelukan melepas rindu. Mas Slamet dan Mbak Rum membelikan baju baru untuk kami sekeluarga, Mas Slamet meminta maaf pada ibu karena merasa telah berbuat iseng. Sore hari di momentum buka puasa terakhir sambil menyambut momen takbiran kami bertakbiran bersama. Keesokan hari setelah menunaikan ibadah salat id kami makan bersama dan melakukan sesi foto bersama. 


"Ya Allah berkahilah keluarga kami dengan rahmat-Mu di hari fitri ini satukan hati kami dalam ikatan abadi sampai surgaMu Aamiin. " doa ibuku


Posisi foto Mas Hari menggendong Zivana, Mbak Annas, Bapak, Ibu, Mbak Rum, Mas Slamet, Putra, Aku memakai kacamata, bersebelahan dengan Zulfah berkerudung merah dan Zhafira yang sedang membuka mulut karena antusias. 


Barakallah Fiikum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian