Semangkuk Mie





 Judul: Semangkuk Mie

Nama: Vykymsun

Isi: 


"Jika yang tak pernah hadir hanya ragamu, namun aku selalu berharap jiwamu tetap utuh di sini, ayah."


Ailsya Aina Nozomi, gadis remaja berambut lurus, berkulit sawo matang, wajah tirus, mata sipit, dan tinggi 150cm. Ia sedang menyelesaikan sebuah buku yang selalu ingin diterbitkan berjudul "Ailsya dan Diary Biru" sekarang sudah mencapai progress 50 persen. Tanpa disadari, ayahnya mengintip anak gadisnya yang serius menulis di catatan birunya.


"Hai, anak gadis ayah. Apa yang sedang kau tulis?" tanya sang ayah dengan penasaran.


"Ayah, hehe, ini buku yang ingin sekali aku terbitkan suatu saat nanti. Semoga aku segera menyelesaikannya dalam waktu dekat," ucap Ailsya.


"Wah, kamu ingin menjadi seorang penulis? Itu keren sekali, nak! Ayah mendukungmu, cepat terbitkan, ayah mau membacanya menggunakan kacamata ajaib ayah itu, hahaha," ucap Zendrick sambil tertawa dan berguling di atas kasur anak gadisnya.


"Ayah, jangan diacak-acak dong kasurku, aku sudah mengumpulkan 95 persen tenagaku untuk merapikannya!" teriak Ailsya sembari merengut.


"Hahaha, apa kamu bilang, nak? 95 persen tenaga? Kelihatan sekali kalau anak gadis ayah ini malas merapikan tempat tidurnya, hahaha. Kamu nggak malu sama calon suamimu nanti kalau dia tahu kelakuan calon istrinya," goda Zendrick melihat anaknya merengut.


"Biarin aja, salah dia kenapa mau sama aku, hahaha," jawab Ailsya sambil merapikan kasurnya yang diacak-acak ayahnya.


"Ayah, aku mau bertanya, apakah sejak dulu ayah tidak mencintai ibu? Benarkah ayah tidak menginginkan kehadiranku?" celetuk Ailsya sembari memegang foto keluarganya.


"Siapa bilang begitu, ayah sangat menanti kehadiranmu. Mungkin dulu ayah tidak tahu cara menunjukkan rasa sayang ayah untuk kalian. Ayah merasa bersalah karena secara tidak langsung menyakiti kalian semua hingga kamu, ibu, kakak, dan adikmu pergi meninggalkan ayah 5 tahun lalu," jawab Zendrick sembari menunduk.


"Aku rindu mie spesial buatan ayah, terakhir ayah membuatnya ketika umurku 7 tahun. Maukah ayah ....," ucap Ailsya.


"Ayah tahu, tunggu sebentar, ayah akan segera buatkan untukmu, spesial dengan topping telur matang, bulat, dan utuh, benar bukan?" ucap Zendrick menyela pertanyaan anak gadisnya.


"Ayah masih mengingatnya, aku kira ayah lupa," ucap Ailsya sembari menangis.


"Hey, anak gadis ayah jangan menangis, ayah tidak ada ditinggal ibu, kakak, dan adikmu. Ayah masih punya kamu, meski kamu juga sempat pergi. Tunggu di sini, ayah buatkan mie spesial untukmu ya!" ucap Zendrick.


Zendrick mengolah mie spesial untuk Ailsya, ia ingat sekali mie kesukaan anak gadisnya, cabainya direbus, telurnya harus matang, rasanya harus asin, kuahnya banyak, mie tidak terlalu lembek, tidak lupa bawang merah setengah matang, dan terakhir ditabut lada putih. Masakan sempurna untuk anak gadisnya.


"Pesanan datang, mie spesial untuk Ailsya Aina Nozomi," ucap Zendrick.


"Terima kasih ayah, ini benar-benar sempurna, bahkan ayah tidak lupa satu hal tentang mie kesukaanku," ucap Ailsya sembari menangis.


"Kenapa kamu menangis? Ayo habiskan, nak, ayah buatkan spesial dengan cinta," Zendrick menggoda anak gadisnya sembari mengelus kepalanya.


"Ini enak sekali ayah, terima kasih, yah. Oh iya, nanti ceritakan ya tentang ayah dan ibu yang belum sempat aku dengar," ucap Ailsya.


"Iya, nak. Habiskan terlebih dahulu mie itu, sebelum dia berubah ukuran menjadi mi raksasa karena terlalu lama kamu abaikan di mangkuk kesukaanmu itu, hahaha" ucap Zendrick sambil tertawa.


Setelah menghabiskan semangkuk mie buatan ayahnya, Ailsya menagih janji ayahnya untuk bercerita. Hingga tak sadar Ailsya melupakan waktu salat dan mengajinya. 


"Ayo ayah, ceritakan sekarang!" ucap Ailsya.


"Ayah hanya seorang anak remaja yang malas belajar, nakal, dan suka mabuk-mabukan. Ayah menyukai ibumu ketika melihat dia melintas di area ayah suka melamun, di depan gerbang makam, hahaha. Akhirnya ayah bisa menikah dengan ibumu, lalu kami dikaruniai anak perempuan pertama, dia adalah kakakmu. Ayah yang suka foya-foya dan mabuk-mabukan membuat sikap ibumu berubah bahkan enggan menyatakan bahwa dia mencintai ayah. Kehidupan kami berubah drastis ketika lahirnya kamu. Keuangan hancur, bahkan untuk membeli susu pun tidak ada. Emosi kami tidak stabil, saling mempertahankan prinsip masing-masing hingga suatu hari ayah melakukan kesalahan besar yang membuat ibumu murka. Eh, nak, sebaiknya kamu salat terlebih dahulu, sudah lewat maghrib ini," ucap Zendrick.



"Baik, ayah," jawab Ailsya


"Kunci sebuah hubungan adalah komunikasi, jika ingin membuka diskusi maka semua keadaan akan berubah. Buruknya seseorang pasti ada hal yang mempengaruhinya." 


Jakarta, 03 Oktober 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian