Rasa yang Tak Pernah Dingin

 



Nama : Nailatul Hikmah 

Judul : Rasa yang Tak Pernah Dingin

Isi : 


Sore itu, langit berwarna jingga pucat ketika Sinta pulang dari sekolah dengan langkah gontai. Di teras rumah, neneknya sudah duduk menunggu sambil mengupas ubi rebus yang baru diangkat dari kukusan. Aroma hangat itu langsung menyambutnya, menyingkirkan rasa lelah yang menempel di pundak. Tanpa banyak bicara, sang nenek menyodorkan sepotong ubi, dan Sinta duduk di sebelahnya. Mereka menikmati keheningan yang nyaman, hanya ditemani suara jangkrik yang mulai terdengar.


Tak lama kemudian, ayah pulang membawa setumpuk kayu bakar, disusul ibu yang datang dari ladang dengan wajah penuh tanah. Mereka duduk bersama di teras, saling bertukar cerita ringan tentang hari yang berlalu. Tawa kecil muncul di sela percakapan, menambah hangat suasana sore yang sederhana. Tak ada televisi, tak ada gawai hanya rasa kebersamaan yang tumbuh dari kebiasaan saling hadir.


Ketika matahari perlahan tenggelam di balik bukit, Sinta memandang keluarganya satu per satu dan merasa sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan kebahagiaan yang riuh, tapi ketenangan yang dalam seolah dunia di luar boleh sibuk, namun di sini waktu berjalan lebih lambat, lebih lembut. Ubi rebus itu mungkin sederhana, tapi rasanya akan selalu ia kenang sebagai cita rasa keluarga yang manis, hangat, dan menenangkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian