SUARA LIRIH BAPAK



 Nama : Rani Iriani Safari

Judul :  SUARA LIRIH BAPAK

Isi : 


Air mata yang hampir bergulir, aku tahan sekuatnya meski hati terasa perih. Kerasnya sikap bapak yang tidak mau ke dokter, membuatku tetap berusaha membujuknya. Luka lama yang masih terbuka, sulit dilupakan bapak. Aku lebih memilih jodohku sendiri daripada laki-laki yang disodorkan bapak. Di luar, senja sudah turun dan hampir gelap. Aku bergegas pulang bersama suamiku yang bermuka datar tanpa ekspresi.


Setibanya di rumah,  pintu tampak terbuka dan terlihat banyak orang yang sedang berkumpul, beberapa orang bahkan melantunkan ayat-ayat suci. Lampu sudah menyala terang,  padahal sebelum pergi ke rumah bapak,  lampu dalam keadaan padam.  Kebingungan menyergapku tiba-tiba, aku tidak bisa berpikir apa-apa. Ada apa gerangan? 


Angin malam terasa begitu dingin, sekujur tubuhku menggigil kedinginan. Aku melangkah masuk mengucap salam, tapi tak ada satu pun yang menjawab. Satu per satu aku sapa orang yang ada di ruang tamu. Lalu, aku melihat kedua anakku menangis terguguk dalam pelukan ibuku. Sejenak, aku menjerit memanggil kedua anakku, tapi semuanya seolah tak melihatku,. Tatapanku beralih  ke depan mereka, ada kain menutup dua tubuh yang terbujur kaku.  Tangan gemetar bapak mengusap salah satunya perlahan. Sesak terbata-bata, kata maaf bapak begitu mengiris hatiku, ingin rasanya menangis dalam pelukan bapak. Setangkup doa menenangkanku, "Bapak yang akan mengurus anak-anakmu sebagai penebus kesalahan selama ini." Lirih suara bapak di telingaku. Aku ingat sekarang,  sepulang dari rumah bapak tadi, tabrakan maut di jalan tol telah merenggut nyawaku dan suamiku.



Titimangsa :  

Bandung, 251118 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Mawar Tua Istana Eirandel

Di Bawah Pohon Aranea

Kejutan Kedamaian