Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Keluarga

Gambar
  Judul: Keluarga Nama: Mita Isi: Angin berembus pelan, menari di ujung rambutmu, seakan ingin membangunkanmu dari mimpi yang panjang. Kamu membuka mata, dan langit malam menyambutmu dengan gelapnya yang pekat. Suara jangkrik dan remah daun di halaman rumah terasa akrab, tetapi entah kenapa hatimu berdebar. “Aku …, di rumah(?)” tanyamu ragu. Di dekat pagar rumah, pohon mangga yang biasa kamu panjat dulu, menjatuhkan daun keringnya, menimbulkan perasaan akrab yang nyata. “Kak, masuk! Ngapain kamu ngelamun di luar!” Teguran ibumu memecah senyap, menyapa telingamu dengan lembut. Kamu terhenyak, jantungmu berdetak lebih cepat. Melihat ibumu meletakkan sapu di balik pintu, dan cahaya lampu teras memantulkan bayangannya, membuatmu membeku. Tanpa sadar langkahmu menuju rumah terasa ringan …, penuh semangat bertemu keluarga. “Ibuk, kangen banget!” teriakmu, sambil memeluknya erat. Wajah Ibu yang manis, dan bau sabun yang familiar membuatmu merasa aman sekaligus tenang. Di ruang tengah, ay...

GERHANA CEMARA

Gambar
  GERHANA CEMARA OLEH: GABE PUTERA   Pada hari sabtu 9 January 1977, malam itu keluarga Debora pergi menjalani camping di sebuah hutan liar di dekat kota tua yang hampir mati, Clara istri Jeremy mengusulkan ide ini untuk memperkuat hubungan keluarga yang hampir retak karna perselingkuhan jeremy dan Dona yang bekerja di Bank center, Agra dan Belle 2 anak jeremy dan clara pun setuju.   “ Agraaaa, Belleee, ayuk mkn.”   “Agra, Belle, iya sebentar.”   “ ibu ingin mengusulkan bagaimana kalau kita pergi camping ? .”   “Agra, Belle, memangnya dimana bu ?.”   “ di hutan, pasti sangat mengasikan, hanya saja lumayan jauh untuk melakukanhal ini.”   Setelah beres beres dan masuk kemobil, dikarenakan Belle anak pertama jadi dia mengangu Agra adikmya, jeremy pun memerahi Belle supaya tidak jail.   “Belle, diam lah Belle, jangan gangu adikmu, ayah lagi menyetir.”   Diperjalanan sangat panjang, cahaya terang mulai tengelam dan artinya hari sudah malam, s...

Menikah Tanpa Bahagia

Gambar
Judul: Menikah Tanpa Bahagia Nama: Christie Sianty  Isi:  Elisabeth berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya marun yang dipilih ibunya. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipulas tipis agar tampak bersinar tetapi di balik riasan itu, matanya menyimpan sesuatu yang tak bisa disembunyikan yaitu kehilangan. Di layar ponselnya, satu pesan belum dibuka. Dari Setiawan. “Selamat menempuh hidup baru, kembalilah kepadaku jika bersamanya kau tidak bahagia.” Setiawan adalah cinta pertamanya. Pria Jawa yang ia temui saat SMA, saat ia menjadi panitia upacara dan Setiawan berdiri tegap sebagai komandan barisan.  Surat-surat, pertemuan singkat saat Setiawan pulang dari tugas militer dan janji-janji kecil yang tak pernah mereka ucapkan keras-keras. Elisabeth tahu sejak awal, bahwa cinta mereka tak akan diterima. Setiawan tak pernah membawa bunga atau hadiah mahal tetapi ia selalu tahu kapan Elisabeth butuh ditemani. Saat Elisabeth sakit, ia datang diam-diam ke rumah, menitipkan termos ...

Malaikat dari Surga

Gambar
  Malaikat dari Surga Oleh: Leora Senja  “Kalau kamu tetap kekeh dengan pilihanmu, maka kamu harus keluar dari rumah ini dan tidak akan menerima sepeserpun warisan dari kami!” ucap seorang pria paruh baya bernama Susanto dengan mata yang memerah menahan amarah.  “Baik, aku akan pergi!” jawab Aldo dengan keyakinan penuh. Pria berusia 25 tahun itu bangkit menuju kamar berniat untuk mengemasi pakaiannya.  Tak banyak yang dibawa oleh pria tampan itu, hanya beberapa pasang pakaian, sedikit uang, dan beberapa barang lainnya. Setelah selesai, iya kembali ke ruang tamu dan berpamitan kepada kedua orang tuanya.  “Pa, Ma, aku pamit,” ucapnya sebelum melangkah menuju pintu keluar.  “Aldo, Jangan tinggalkan Mama, Nak!” teriak Maya dengan air mata yang berderai membasahi wajah cantiknya.  “Sudahlah, Ma, jangan tangisi anak bebal itu! Papa yakin tidak lama lagi Aldo pasti kembali. Tidak mungkin dia bisa hidup tanpa harta dari kita!” ujar Susanto dengan yakin. Ucapan...

Pulang Paling Indah

Gambar
  Judul : Pulang Paling Indah Nama : Siti Aisyah Al Humaira Isi : Hujan baru saja reda ketika Aila tiba di halaman rumah kayu sederhana itu. Aroma tanah basah menyatu dengan wangi daun pisang yang masih menyisakan titik-titik air. Aila berdiri terpaku, tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena perasaan yang sulit ia terjemahkan. Sepuluh tahun ia pergi, sepuluh tahun ia memilih merantau, berjarak, menjaga hati yang rapuh karena kisah cintanya dengan Arkan yang tak pernah direstui ayahnya. Kini, dengan langkah berat, ia kembali. Pintu rumah itu masih sama, cat nya memudar, engselnya berdecit, namun disanalah segala ingatan manis dan getir bermula. Aila mengetuk pelan, dan suara langkah dari dalam membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Pintu terbuka, menampakkan sosok yang dirindukan namun juga ditakuti: ayahnya. Rambut beliau sudah memutih, wajahnya penuh keriput, namun tatapan matanya masih sama tajamnya, penuh wibawa. “Aila…” suara itu pecah, lirih, ...

Nada diantara Tribun

Gambar
Nada diantara Tribun   Nama : Ava Wijaya Isi : Suara riuh penonton memenuhi lapangan basket, tapi Alvaro justru menoleh ke arah pojok tribun. Di sana, Nayla duduk dengan tenang, menulis sesuatu di buku catatannya. Entah kenapa, setiap kali ia melihat gadis itu, kemenangan terasa bukan lagi tujuan utama. Pertandingan telah usai, suara riuh penonton masih menggema saat ketika Alvaro berjalan keluar lapangan, Handuk biru tergantung di bahunya. Pandangannya tertuju pada seseorang yang berada di tribun, yaitu tertuju pada Nayla yang masih duduk dengan buku catatannya. Alvaro memberanikan diri untuk mendekati Nayla yang masih duduk di tribun, “Kamu…. menulis puisi lagi?” tanyanya sambil mengusap keringat di leher. Nayla tersentak, ia buru-buru menutup bukunya “iya.. ini hanya coretan biasa kok.”, Kamu nggak seharusnya tau”. Alvaro tersenyum, “Sayang kalau disembunyikan, kalau puisi itu membuatku semangat saat di lapangan, kenapa tidak kamu baca”. Nayla menatapnya “Kamu serius..?” bukanny...

Saudara Kembar yang Terpisah

Gambar
Judul: *Saudara Kembar yang Terpisah* Nama: bagus aprilianto Isi : Sebuah hampa, seperti ukiran es yang perlahan meleleh di bawah terik Jakarta, selalu menemaniku. Aku, Maya, seorang pematung es di sudut pinggiran kota yang sederhana, akrab dengan sunyi. Tanganku terampil membentuk wujud beku, namun, jiwaku seringkali terasa kosong, seolah ada bagian diriku yang hilang, tak pernah terungkap, Rumah kecil yang kutempati bersama Ibu terasa dingin, bukan karena ukiran esku, melainkan karena bisu yang menyelimuti rahasia. Aku hidup, bekerja keras, namun, rasa ‘kurang’ itu tak pernah sirna. Di sisi lain kota yang makmur, mungkin ada jiwa lain yang merasakan serupa, dalam kemewahan yang tak dapat kubayangkan, mencari arti yang sama. Kami berdua, dua individu di dua dunia berbeda, yakin diri kami anak tunggal, namun, sama-sama dihantui oleh kehampaan yang tak terucapkan. Momen itu tiba, mengubah segalanya. Sebuah pameran seni kontemporer, di mana patung es karyaku, seorang wanita yang merang...

Secangkir Berani

Gambar
Judul: Secangkir Berani Nama: putri aisyah zahra  Isi: Aku tak  menyangka, warung kopi kecil di pojok jalan itu justru menjadi tempat aku belajar arti keberanian. Namaku Arum, 27 tahun, karyawan swasta dengan rutinitas yang nyaris membosankan, Setiap sore aku mampir ke sana, sekadar meneguk kopi tubruk sebelum pulang. Hingga suatu hari, seorang barista baru muncul. Wajahnya segar, senyumnya terang, dan jelas lebih muda dariku. “Mb kakak suka manis, atau agak pahit?” tanya nya waktu pertama kali. Aku sempat terdiam. Bukan karena pertanyaan, melainkan karena tatapannya, hangat, berani. Namanya Dio, baru 20 tahun. Awalnya aku mengira ia hanya ramah ke semua pelanggan. Tapi seiring hari-hari berjalan, ia mulai mengingat detail kecil: gula setengah sendok, aku lebih suka kursi dekat jendela, bahkan kebiasaanku membaca novel sebelum kopi habis. “Kenapa selalu sendirian?” tanyanya suatu sore. Aku terkekeh. “Karena belum ada yang berani duduk di sini.” Dia menaruh cangkir di mejaku, l...

Cukup dengan senyummu

Gambar
Judul: Cukup dengan senyummu Nama: Siti Annisa Isi:  Pagi masih gelap ketika Shofia membuka mata. Lantai semen dingin langsung menusuk telapak kakinya. Di sampingnya, ibunya masih terlelap, berselimut tipis yang nyaris tak mampu menghalau dingin pagi itu . Sejak ayahnya meninggal, Shofia yang baru berusia tujuh belas tahun harus menggantikan peran kepala keluarga. Ia bekerja di warung Pak Burhan dengan gaji pas-pasan, walau hanya sekedar cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana setiap harinya.  Sore itu, temannya mampir ke warung. “Sof! Kemarin aku ke pantai. Seru banget, sumpah. Naik banana boat segala!” Rina bercerita dengan riang. “Asik banget, ya,” jawab Shofia sambil merapikan kaleng. “Makanya ikut, dong. Sekali-kali refreshing.” Shofia tersenyum hambar. “Iya, kapan-kapan.” Ia tahu “kapan-kapan” itu hanya alasan. Dalam hatinya, ia ingin sekali seperti teman-temannya. Tapi tanggung jawab di rumah membuatnya tak bisa memilih. Malam itu ia duduk di kamar kecilnya, memelu...

NADA TAK BERSAMBUT

Gambar
  Judul: NADA TAK BERSAMBUT  Nama: Grace Gultom  Isi:  Cuaca terik di bulan Oktober sungguh membuat badan gampang meriang. Melisa pun demikian. Di bawah tiupan AC yang membuatnya menggigil, Melisa terus menyusun laporan demi laporan ke dalam tabel data untuk diserahkan kepada Pak Hendra sebelum jam lima sore nanti. Ia sesekali menggosok kedua lengannya yang meremang, namun tuntutan pekerjaan membuatnya enggan beranjak dari kursi. Di tengah kebisingan tuts komputer yang ditekan kuat-kuat, suara mesin fotokopi yang terus berdengung, suara telepon kantor yang berdering bergantian, dan suara percakapan para rekan kerja Melisa yang nyaring, Melisa melihat smartphone miliknya terus bergetar pelan dengan nama “Ibu Icha” tertera di layarnya.  Kebisingan itu telah membelenggu Melisa, seolah dunia luar tidak lagi penting. Panggilan dari “Ibu Icha” hanyalah satu nada kecil yang kemudian diserap oleh deru tugas pekerjaan. Melisa tahu dia seharusnya mengangkat telpon masuk i...

Sempurna, Tapi Tidak Sempurna

Gambar
  Judul: Sempurna, Tapi Tidak Sempurna Nama: Allya Almahira Isi:  “Apa kurangku, Mas? Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, tapi ternyata ini perlakuanmu padaku?” Aku terisak di hadapan Mas Amar yang sedang berdiam diri di ruang kamar kami.  Air mataku tak berhenti mengalir memandang laki-laki yang selama sepuluh tahun menjadi suamiku ini tega berkhianat.  “Apa selama ini aku tidak menjadi istri yang baik untukmu, Mas? Atau malah kamu mulai bosan denganku?”  Berbagai macam pertanyaan kulontarkan untuknya, tak menjawab laki-laki yang selalu berpenampilan rapi itu terdiam menunduk.  “Jawab, Mas Amar, jawab! Kenapa kamu diam saja? Apa kamu sudah tidak menganggapku lagi di sini?” tambahku dengan nada sedikit keras, meski dengan suara bergetar.  Kali ini suaraku berhasil mendongakkan wajah Mas Amar, dia menatapku dengan tatapan tajam yang tak bisa kuartikan.  “Coba pikirkan, Cindy. Sepuluh tahun kita menikah, apa kamu sudah berhasil memberikan ke...

Aroma Hujan dan Teh Jahe

Gambar
  Judul: Aroma Hujan dan Teh Jahe Nama: Jose Alexandre 😎 Isi:  Aroma Hujan dan Teh Jahe Langit di Surabaya sore itu muram, sama seperti gurat lelah di wajah Riana. Di pangkuannya, Bima, putra kecil mereka yang baru berusia enam bulan, akhirnya terlelap setelah drama rewel yang seolah tiada habisnya.  Aroma minyak telon yang menenangkan berbaur dengan bau hujan yang mulai membasahi aspal di luar jendela. Rumah terasa sunyi. Keheningan yang dulu, saat hanya ada ia dan Ardi, terasa intim dan penuh cinta, kini terasa sedikit berjarak. Bukan karena cinta itu hilang, tapi karena terkubur di bawah tumpukan popok, jadwal menyusui, dan malam-malam tanpa tidur. Pintu depan berderit pelan. Ardi pulang dari bekerja. Suaminya itu masuk dengan langkah yang sama lelahnya, tas kerja di bahu kanannya terlihat berat. Ia tersenyum pada Riana, senyum yang sama hangatnya, namun matanya tak bisa menyembunyikan penat. "Assalamualaikum," sapanya pelan, takut membangunkan Bima. "Waalaikumsalam,...